Wednesday, 16 October 2019

Kerusuhan di Mako Brimob, Ini Alasan Kapolri Tak Langsung Menyerang Napi Teroris

Kamis, 10 Mei 2018 — 19:52 WIB
Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

DEPOK – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan pengepungan terhadap narapidana teroris, polisi mengerahkan seribu personel. Instruksi pengepungan disampaikannya saat masih di Yordania.

Saat kerusuhan terjadi di Rutan mako brimob itu, Tito tengah melakukan kunjungan luar negeri. Setiba di Indonesia, ia langsung menuju ke Mako Brimob.

Mantan Kepala Detasemen Khusus 88 ini menyebut pengepungan dilakukan karena napi merampas senjata petugas.

“Kemudian di saat itu mereka merampas beberapa senjata dan saya beri instruksi untuk segera melakukan perimeter pengepungan. Dengan kekutaan cukup besar saya tanya di dalam lebih kurang ada 155 orang dan kemudian ada satu bayi di dalam. Anggota yang disandera ada satu yang masih hidup dan kemudian jumlah anggota yang kepung hampir 800 sampai 1.000,” katanya di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).

Saat pengepungan, lanjutnya, polisi memiliki dua opsi, yakni langsung menyerang atau memberikan peringatan terlebih dahulu. Tito menyebut opsi kedua yang menjadi keputusan.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu menjelaskan opsi diambil dengan mempertimbangkan beberapa faktor di antaranya ketidaksepahaman antarnapi teroris.

“Karena kita tahu di dalam kelompok semua ada pro kontra. Ada yang dukung kekerasan, ada yang tidak ingin. Itu yang menjadi opsi kita agar jangan sampai ada korban yang banyak padahal ada yang tidak ingin melakukan kekerasan,” tandasnya.

Langkah ini dinilai Tito tepat. Seorang polisi yang menjadi sandera, Bripka Iwan Sarjana, akhirnya berhasil dibebaskan. Kemudian pagi tadi, narapidana kasus teroris berhenti melakukan perlawanan. Mereka menyerahkan diri. (ikbal/yp)