Thursday, 05 December 2019

Terkena Pembebasan Lahan Tol Cijago, Warga Tolak Ganti Rugi

Sabtu, 2 Juni 2018 — 13:59 WIB
Sejumlah warga Kota Depok yang terkena proyek pembebasan lahan Jalan Tol Cijago saat mengumpulkan data surat tanah ke petugas tim apresial BPN Depok. (anton)

Sejumlah warga Kota Depok yang terkena proyek pembebasan lahan Jalan Tol Cijago saat mengumpulkan data surat tanah ke petugas tim apresial BPN Depok. (anton)

DEPOK  – Sejumlah warga di beberapa RW di Kelurahan Tanah Baru, Beji, Kota Depok, yang terkena pembebasan lahan Jalan Tol Cinere – Jagorawi (Ciijago) menolak mentah-mentah harga ganti rugi yang diajukan tim apresial dari Pemkot Depok.

Penolakan warga itu disampaikan saat melakukan musyawarah berkaitan kelanjutan proyek pekerjaan jalan tol Cijago yang sudah terkatung-katung sejak beberapa tahun. Mereka menilai banyak kejanggalan dalam penentuan harga ganti rugi lahan yang terkena dari tim apresial sebelumnya.

“Kami jelas menolak bila ganti rugi lahan hanya ditetapkan sebesar Rp 3,8 juta/meter. Sebab, sebelumnya pernah disampaikan beberapa tahun lalu mencapai Rp 5 juta/meter hingga Rp 10 juta/meter, belum termasuk bangunan dan tanaman,” kata Ratno, warga Kel. Tanah Baru, Beji, Sabtu (2/6).

Menurut dia, ganti rugi sebesar Rp 3,8 juta/meter jelas warga yang terkena pembebasan lahan bakal tidak setuju karena terlalu rendah dan yang mengherankan kok harga ganti rugi yang disampaikan dalam musyawarah sekarang jauh dari harga yang ditawarkan setahun lalu.

“Lahan saya sudah diukur dan dihitung hanya memiliki luas sekitar 57 meter dan harganya pun sudah ditetapkan dua tahun lalu tapi sekarang malah harga yang ditetapkan tim apresial baru malah jauh turun dari harga sebelumnya,” kata bapak dua anak ini yang merasa heran dengan adanya kejanggalan penentuan harga ganti rugi lahan untuk Tol Cijago di Kota Depok.

Hal senada juga dikatakan Haryadi, warga lainnya, yang merasa heran dengan tim apresial dari BPN Kota Depok yang dinilai tidak konsisten mengenai penetapan harga ganti rugi dari sebelumnya sekarang ini. “Saya tidak akan sepakat dan menolak harga yang ditentukan tim apresial sekarang ini karena sangat berbeda jauh dengan warga yang telah dibayar di daerah Kukusan, Beji,” tegasnya.

Banyak Kejanggalan

Pemilik lahan di Kelurahan Kukusan, Beji, sudah sepakat dan menerima ganti rugi yang diajukan tim apresial BPN Depok karena nilainya cukup tinggi.  “Sedangkan warga di Kelurahan Tanah Baru, kok, harganya jauh dari yang diharapkan,” tuturnya yang menambahkan warga berpatokan sama dengan ganti rugi yang diberikan warga Kukusan.

Banyak warga Kukusan bermukim di jalan sempit tapi harganya tinggi sedangkan saya lahannya di pinggir jalan harganya di bawah standar hanya Rp 5 juta/meter sedangkan di Kelurahan Kukusan harga ganti rugi mencapai Rp 8 juta hingga Rp 10 juta/meter.

“Kok bisa ada perbedaan dari penentuan harga ganti rugi dua tahun lalu dan dinilai banyak kejanggalan dalam penentuan harga ganti rugi lahan terkena proyek Jalan Tol Cijago yang hingga kini tidak kunjung selesai,” tuturnya kecewa.

Menanggapi banyak protes dan keberatan warga Kel. Tanah Baru terhadap nilai ganti rugi yang diajukan pemerintah melalui tim apresial, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Depok, Sutanto, mengatakan pihaknya memang tengah melakukan musyawarah mengenai ganti rugi lahan milik warga yang bakal terkena proyek Jalan Tol Cijago di Kel. Tanah Baru, Beji.

Selain melakukan musyawarah juga menyerahkan usulan berkaitan ganti rugi lahan, bangunan dan tanaman milik warga yang telah ditetapkan pemerintah, tuturnya sambil mendengarkan aspirasi warga berkaitan masalah yang ada di lapangan bila tidak setuju tentunya ada mekanismenya dari pemerintah atau tim apresial.

Bila memang keberatan dan tidak setuju dengan harga yang diajukan tim apresial atau pemerintah tentunya BPN Depok memberikan batas waktu sanggahan selama dua minggu atau 14 hari kerja dan langsung diajukan ke BPN Depok.

“Jika selama 14 hari masa sanggahan warga masih juga tidak setuju, silahkan ajukan ke pengadilan untuk dilakukan konsinyasi,” tuturnya. (anton/win)