Friday, 18 October 2019

Penolakan MK Ditanggapi Beragam oleh Driver Ojol

Jumat, 29 Juni 2018 — 11:18 WIB
Haryo, driver Ojol.(Cw2)

Haryo, driver Ojol.(Cw2)

JAKARTA –  Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan  menolak melegalkan ojek online sebagai transportasi umum, ditanggapi beragam oleh sejumlah driver ojek online (ojol).

Seperti salah satu driver ojek online, Harjo. Dia berharap  ojek online bisa dijadikan transportasi umum seperti halnya angkutan umum lainnya. Ia pun menyayangkan karena MK menolak melegalkan ojol ini.

“Semestinya mah disama ratain aja. Toh kalau alasannya karena keamanan kan, kecelakaan bisa di mana aja terjadi, ga mesti karena ojek,” ujar Harjo pada Jumat (29/6/2018) di Jalan Stasiun Cakung, Jakarta Timur.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika ojol bisa dilegalkan, akan jauh lebih menguntungkan para drivernya. Terlebih kata Harjo, mayoritas driver kalangan menengah.

“Kita kan yang jadi driver kebanyakan orang kecil, kalau disamaratakan, dilegalkan gitu kan enak. Tapi yah gini juga gapapa lah, yang penting masih bisa ngebeat,” tambahnya.

Driver ojol lainnya, Yudhi, mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru menurutnya, memang agak sulit jika ojol ingin ditetapkan sebagai tranportasi umum.

“Yah sebenarnya memang agak susah ya. Itu aja ojek pangkalan yang udah dari dulu ga pernah kan jadi angkutan umum? Berarti mungkin memang ga bisa,” seru Yudhi.

Diketaui MK menolak ojek online sebagai tranportasi umum. Meskipun tidak diatur dalam UU LLAJ, ojol ini tetap bisa berjalan. MK pun menilai polemik ojol ini bukan permasalahan konstitusional. (Cw2/tri)