Monday, 16 December 2019

Parpol Cari Caleg Pemilu 2019 Artis Direken Seperti Sembako

Rabu, 25 Juli 2018 — 7:56 WIB
artis sembako

DULU PAN diplesetkan sebagai Partai Artis Nasional, karena banyak artis jadi Calegnya. Tapi kini semua parpol ikut-ikutan meniru. Walhasil artis kini bak sembako, jadi kebutuhan pokok parpol ke Pileg 2019. Cuma ada yang kelas minyak goreng, politisi licin. Banyak pula kelas telur, hanya glundang-glundung tak punya peran di Senayan.

Sebetulnya artis jadi Caleg bukan sekarang saja. Jaman Orde Baru ada juga sejumlah artis jadi politisi. Misalkan Edy Sud juragan Anekaria Safari di TVRI, dia anggota DPR dari Golkar. Rhoma Irama jurkam PPP dan Sophan Sopiaan anggota DPR dari PDI yang kemudian menjelma jadi PDIP sekarang.

Dulu artis di Senayan hanya setitik, tapi kini hampir sebelanga. Pelopor awalnya PAN besutan Amien Rais. Saking banyaknya artis yang bergabung ke PAN, maka publik memplesetkannya jadi Partai Artis Nasional. Itu tak masalah bagi PAN, wong faktanya parpol lainnya kemudian juga pada makmum.

Menghadapi Pileg 2019 mendatang, mana ada parpol bebas Caleg artis? Nggak ada! Dari 54 bakal Caleg, yang 27 diborong Nasdem. Maka sekarang artis itu bagi parpol sudah menjadi kebutuhan pokok, sudah bagaikan sembako saja laiknya. Tanpa caleg artis, sepertinya menjadi gelap menatap Pileg 2019.

Tapi ya itu tadi, namaya juga caleg sembako, tentu kelasnya menjadi berbeda-beda. Kelas Caleg minyak goreng, dia bakal menjadi politisi licin di Senayan, sepakterjangnya diperhitungkan parpol lain. Kalau duduk di kubu oposisi, kritikannya bikin merah kuping penguasa.

Tapi ada juga yang kelas Caleg telur, bisanya di Senayan hanya glundang-glundung (menggelinding saja), tidak jelas. Tak pernah ngomong di koran, tak pernah diwawancarai pers. Yang penting mengikuti agenda sidang dan  tiap bulan terima gaji Rp 60 juta.

Begitulah caleg sembako ala parpol. Mereka diajak bukan karena kapabelitas, tapi sekadar punya popularitas dan uang kertas. Ada memang yang bagus seperti Desy Ratnasari, Miing Dedi Gumelar, Rieke Diah Pitaloka. Tapi kebanyakan gagap politik, karena yang penting bisa mendulang suara.

Dan begitulah konstituen di Indoensia. Mereka banyak yang menganggap artis itu makhluk setengah dewa. Maka ketika ada artis nyaleg, dicobloslah artis idolanya itu tak peduli seperti apa kwalitasnya; kelas minyak goreng apa cuma telur? – gunarso ts