Wednesday, 23 October 2019

Medali Emas, Buah Perjuangan Tiara Melawan Cedera

Senin, 20 Agustus 2018 — 21:33 WIB
Tiara Andini Prastika

Tiara Andini Prastika

JAKARTA– Nama Tiara Andini Prastika mendadak jadi terkenal setelah mempersembahkan emas ketiga bagi Tim Indonesia dari cabang olahraga (cabor) balap sepeda Asian Games 2018, Senin (20/8/2018).

Tiara yang turun di nomor balap sepeda gunung putri berhasil menjadi yang tercepat pada balapan yang digelar di Subang, Jawa Barat dengan waktu terbaik 2 menit 33,056 detik.

Ia berhasil mengalahkan pembalap asal Thailand, Vipavee Deekaballes yang terpaut 9,598 detik di urutan kedua dengan medali perak dan unggul 9,608 detik dari peraih perunggu yang juga wakil Indonesia, Nining Porwaningsih.

Bagi Tiara, itu adalah medali emas pertama sepanjang sejarah keikutsertaannya di Asian Games. Namun perjalanannya untuk mengondol medali emas Asian Games 2018 , bukannya tanpa halangan. Apalagi setelah ia mengalami cedera saat berlaga dalam Kejuaraan Sepeda Gunung Asia 2017 lalu.

Akibat cedera tersebut, Andini harus menjalani operasi dan kerap kambuh sehingga ia harus mondar-mandir selama pemusatan latihan nasional (Pelatnas) untuk Asian Games tahun ini. “Saya operasi 20 Maret lalu. Menurut dokter, saya harus istirahat sekitar tiga bulan. Kalau dihitung Juni atau Juli baru bisa turun,” kata Tiara yang membuatnya harus absen pada kejuaraan Asia di Cebu, Filipina, pada Mei lalu.

Meski demikian, Tiara tetap berlatih sesuai dengan program. “Untuk latihan/endurance dan/gym terus saya lakukan sesuai dengan program. Cuma belum turun di trek saja. Jadi saya kira tidak mengganggu persiapan menuju Asian Games 2018,” kata pebalap yang juga pernah turun di kejuaraan dunia Australia 2017.

Ia bahkan masih merasakan nyeri di jari telunjuk sebalah kanan akibat peristiwa yang menimpanya di Kejuaraan Asia tahun lalu. Meski tampil dengan kondisi yang tidak sepenuhnya maksimal, namun Tiara membuktikan kemampuan terbaiknya di Asian Games tahun ini.

“Kondisi cedera saya masih sama, cuma saya sekarang lebih menjaga. Setiap latihan, saya enggak bisa push, tergantung kondisi tangan. Untuk penguasaan trek, kita sebagai tuan rumah lebih diuntungkan karena sudah hafal treknya,” ungkapnya.

Atlet asli Semarang, Jawa Tengah itu memulai kariernya di ajang balap sepeda sejak akhir 2012 lalu. Meski terbilang baru, dia mampu merebut gelar juara nasional pada 2017, sebelum cedera menderanya di Kejuaraan Asia tahun lalu. Perempuan kelahiran 22 Maret 1996 tersebut saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Semarang. (junius/b)