Wednesday, 23 October 2019

Tausiyah Kebangsaan di MPR, Abdul Somad: Selamanya Jadi Ustadz

Rabu, 29 Agustus 2018 — 23:12 WIB
Ustadz Abdul Somad bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan saat acara Coa Bersama di MPR RI, Rabu (29/8) malam. (timyadi)

Ustadz Abdul Somad bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan saat acara Coa Bersama di MPR RI, Rabu (29/8) malam. (timyadi)

JAKARTA – Ustadz Abdul Somad tampil dalam perayaan  HUT ke-73 MPR RI yang diisi dengan Syukuran dan Do’a besama, Rabu (29/8) malam di Lapangan Kompleks  MPR/DPR/DPD RI.

Hadir dalam kesempatan itu  Ketua MPR  Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Muhaimin Iskandar, Ahmad Basarah, Oesman Sapta Odang, EE Mangendaan, Mahyudin,Ahmat Murzani, dan tokoh politik lannya, dan juga di hadiri ribuan umat muslim.

Dalam kesempatan itu Ustadz Abdul Somad memberikan tausiyah kebangsaan. Ustaz Somad sempat berkelakar menyesal karena menolak tawaran sebagai cawapres. Awalnya, Ustaz Somad bercerita tentang pengalamannya masuk gedung MPR. Dia mengaku sampai belajar tentang tugas MPR.

“Karena saya berbicara di kantor MPR, saya mesti mencari apa itu tugas MPR. Pertama, menetapkan Undang-Undang Dasar 1945, itu nomor satu,” kata UAS.

Sang ustadz dari Riau itu kemudian menjelaskan tugas MPR yang kedua, yakni melantik presiden dan wakil presiden. Saat inilah, Somad mengaku menyesal karena telah menolak tawaran jadi cawapres.

“(Tugas MPR) yang kedua, melantik presiden dan wakil presiden. Dalam hati saya, kalau mau (jadi cawapres), kemarin saya ke sini,” canda Somad disambut tawa para pimpinan MPR dan warga yang hadir.

Ia kemudian berrcerita tentang penghadangan yang pernah dialaminya. Somad mengaku tak pernah tebersit untuk menjadi cawapres meski namanya masuk dalam rekomendasi Ijtimak Ulama sebagai cawapres Prabowo Subianto.

“Banyak orang kaya khawatir kalau saya ceramah, dihadang, nggak boleh datang. Untuk apa? Menghadang saya untuk apa? Saya nggak mau (jadi cawapres). Untuk apa?” tegas UAS.

“Ketika saya bicara, ‘Perjuangkan ini dengan tanda tanganmu, tanamkan kebaikan dengan kekuasaan’. Disangka orang saya mau mengiklankan diri saya. Saya nggak mau,” sambungnya.

Ustadz Somad menegaskan memang menolak tawaran jadi cawapres. Dia mengaku ingin selamanya menjadi ustaz.

“Ketika saya berbicara tentang kekuasaan, tentang Islam, tentang hebatnya politik, maka saya tidak mengiklankan diri saya. Oleh sebab itu, jangan khawatir. Tapi saya katakan, sampai akhir hayat, saya ingin menjadi ustaz,” imbuhnya.

Sebelum memulai ceramahnya, Somad mengajak jemaah mengenang para pejuang yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Dia mengingatkan semua warga agar bersatu karena bersaudara.

“Kita ingin menyegarkan kembali memori kita bahwa negeri ini bisa merdeka dari penjajahan karena adanya persatuan. Kau mungkin bukan saudaraku dalam satu keyakinan, tapi engkau adalah saudaraku dalam satu kebangsaan,” kata UAS sebelum ceramah.

Dia mengatakan masa kini banyak yang melupakan perjuangan para pejuang. Dia pun mengapresiasi kegiatan yang digelar hari ini. “Masyarakat kita mungkin terkena dimensi, ya, atau bahkan amnesia, lupa, karena itu selalu dibicarakan di level kantor, atau masjid. Tapi, hari ini alhamdulillah lembaga yang resmi disebarkan dan saudara-saudara yang menyebarkan ini melalui media pers, maka insyaallah masyarakat lebih banyak mendengar,” ungkap ustadz yang sempat menghebohkan Bali itu. (timyadi/win)