Tuesday, 19 November 2019

Ibu Atlet Boccia Ini Ungkap Semangat Juang Puterinya Dalam Bertanding

Jumat, 7 September 2018 — 9:08 WIB
Deriyati, ibunda Febriyanti Vani, setia mendampingi putrinya berlatih Boccia di YPAC.(cw2)

Deriyati, ibunda Febriyanti Vani, setia mendampingi putrinya berlatih Boccia di YPAC.(cw2)

SOLO – Para atlet boccia yang akan turun di Asian Para Games 2018 nanti, menjalani latihan di gedung Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC), Solo. Begitupun dengan Febriyanti Vani yang ternyata ditemani oleh sang ibunda.

Darianti, ibunda Vani menceritakan kalau sang putri merupakan sosok yang penuh semangat. Meskipun memiliki keterbatasan, namun Vani dinilai bukan sosok yang mudah berputus asa.

Hal ini terlihat ketika dara 16 tahun itu tengah mengkuti Pekan Paralympic Pelajar Nasional (Peparpenas) VIII tahun 2017.

“Pepapernas sempet sakit, tapi tetep ikut lomba sampai saya jengkel, saya khawatir karena udah dikerokin, minum obat tapi belum sembuh juga. Tapi dia ga mau pulang maunya ikut lomba,” ujar Darianti, di YPAC, Solo, Jawa Tengah, Kamis (6/9/2018).

Bukan hanya itu saja, ia menilai kalau semangat untuk berlatih Vani juga tinggi. Bahkan menurutnya, putrinya tersebut tidak pernah mengeluhkan kendala tang dialaminya saat bertanding ataupun pada masa latihan.

“Ga ada kendala, semangatnya tinggi. Jadi ga pernah bilang ada kendala,” terangnya.

(Baca : Febriyanti Vani, Salah Satu Atlet Boccia Unggulan Indonesia)

Lebih lanjut kata Darianti, sang putri sudah mulai berkenalan dengan cabang olahraga boccia sejak berumur 14 tahun. Vani mulai berlatih boccia di YPAC setiap sore sehabis pulang sekolah. Karena boccia saat itu masih terbilang cabor baru, maka yang ikut latihan pun masih sedikit.

“(Mulai latihan) dari umur 14 tahunan. Kan boccia baru baru saja. Pertama kali ikut latihan ya Vani, belum ada temannya,” tambahnya.

Boccia sendiri merupakan olahraga untuk disabilitas gerak, yang mana cabor ini diikuti oleh para atlet celebral palsy. Darianti pun mengungkapkan kalau Vani mulai terdeteksi celebral palsy saat umur lima bulan. Saat itu ia melihat perkembangan motorik Vani mulai menurun, sehingga akhirnya ia membawa ke rumah sakit untuk diperiksa.

“Saat usia lima bulan jatuh terus saya bawa ke dokter, diperiksa, katanya otak kecilnya gitu yang berhubungan sengan motoriknya kena. Setelah 5 bulan memang ga bisa gerak-gerak padahal tadinya bisa tengkurap,” kenang sang ibu.

Sejak saat itu, Vani divonis terkena celebral palsy. Meski begitu, Vani mampu menjadi atlet nasional dan meriah emas dalam Peparpenas VIII tahun 2017. Di mana dalam bertanding, Vani lebih mengandalkan tangan kirinya.

“Yang aktif tangan kiri, main pakai tangan kiri,” tandasnya. (cw2/tri)