Thursday, 21 November 2019

Siaga Ancaman Kebakaran

Jumat, 28 September 2018 — 4:50 WIB

CUACA panas menyengat akibat kemarau panjang yang melanda semua daerah, termasuk Kota Jakarta, menyimpan potensi terjadinya kebakaran. Titik panas (hotspot) memang tidak secara langsung mengakibatkan munculnya si jago merah di permukiman, kecuali kawasan hutan. Namun bukan berarti tidak menjadi pemicu kebakaran.

Penyebab utama kebakaran di permukiman maupun gedung perkantoran, termasuk di Jakarta, selama ini didominasi korsleting listrik. Hampir 70 persen kebakaran yang terjadi di Jakarta baik di permukiman maupun perkantoran akibat korsleting listrik.

Seperti kebakaran yang meluluh lantakkan Gerbang Tol Penjompongan, Jakarta Barat, Kamis (27/9/2018). Dugaan kuat, api yang muncul dari tiang atap gerbang, diduga akibat arus pendek listrik. Cuaca panas ditambah tiupan angin membuat api sangat cepat melumat bangunan gerbang tol. Korsleting listrik juga jadi penyebab kebakaran di Museum Bahari pada Januari 2018 lalu.

Di musim kemarau ini warga hendaknya meningkatkan kewaspadaan, terutama yang bermukim di lingkungan padat penduduk. Sebab, selama musim panas ini alat pendingin seperti kipas angin dan AC lebih sering digunakan warga. Beragam penyebab korsleting di antaranya penggunaan barang elektronik tanpa mengontrol kondisi barang tersebut.

Itu sebabnya masyarakat harus mengetahui hal-hal yang menjadi pemicu kebakaran. Kerusakan pada barang elektronik baik pendingin ruangan maupun barang lainnya seperti televisi, dispenser kulkas dan lainnya memicu hubungan arus pendek listrik. Kerusakan kecil semisal kabel mengelupas, rentan menimbukan percikan api.

Penyebab lainnya, pemakaian steker dan stopkontak tidak sesuai dengan prosedur keselamatan. Seringkali warga menggunakan stopkontak dengan banyak steker berlebihan melebihi kapasitas. Padahal ini sangat berbahaya karena mudah menimbulkan percikan api. Di luar korsleting listrik, saat cuaca panas seperti saat ini membuang puntung rokok sembarangan juga menjadi salah satu pemicu kebakaran.

Guna mengantisipasi si jago merah berkobar, warga harus siaga dan meningkatkan kewaspadaan, terutama yang bermukim di lingkungan padat penduduk. Lebih baik mencegah sejak dini sebelum terjadi petaka. **