Sunday, 17 November 2019

Negara Asing Sumbang Rp 220 Miliar Untuk Korban Gempa-Tsunami Sulawesi Tengah

Sabtu, 6 Oktober 2018 — 20:30 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mochammad Fachir (Tengah), Adep Tanggungjawab Sosial Lingkungan KemenBUMN Indriani Widiastuti (kanan) di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (6/10/2018). (cw2)

Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mochammad Fachir (Tengah), Adep Tanggungjawab Sosial Lingkungan KemenBUMN Indriani Widiastuti (kanan) di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (6/10/2018). (cw2)

JAKARTA – Indonesia menerima komitmen pendanaan (pledge) dari negara asing untuk membantu penanganan korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah mencapai Rp. 220 miliar.

Indonesia telah menyatakan membuka dan menerima jika ada negara asing yang hendak membantu korban pasca-gempa dan tsunami Sulteng, selama bantuan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyatakan dari 25 negara yang menyatakan akan mengirimkan bantuan, setidaknya ada 18 negara yang telah meralisasikan bantuan tersebut. Yakni Malaysia, Korea, Jepang, India, Tiongkok, Vietnam, Singapura, Swiss, Qatar, Turki, Spanyol, Inggris, Selandia Baru, Australia, Russia, Pakistan, dan Denmark.

“Dana bantuan asing senilai Rp220 miliar, dijelaskan kembali dalam bentuk komitmen,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mochammad Fachir, di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (6/10/2018).

Ia menjelaskan kalau Rp. 220 miliar ini jumlahnya masih mungkin bertambah. Selain itu, belum semua dana tersebut telah cair dan disalurkan. Sebab, ada dana yang masih harus menunggu syarat administratif untuk pencairan.

Adapun dana tersebut tidak hanya digunakan untuk penanganan pasca gempa pada masa tanggap darurat ini saja. Tetapi juga pada masa rehabilitasi dan rekontruksi nanti.

“Bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi nanti akan disiapkan mekanisme penyalurannya, dengan koordinasi di bawah Kemenko Polhukam,” tambah Fachir.

Lebih lanjut, ia menambahkan kalau bantuan-batuan yang ditawarkan oleh negara asing tidak langsung diterima begitu saja. Sebab, ada proses identifikasi awal terlebuh dahulu.

“Beberapa negara ada yang menawarkan tapi tidak sejalan dengan identifikasi awal. Kita katakan, kita identifikasi dulu dan dipastikan bahwa alat tersebut dibutuhkan di sana (Sulawesi Tengah),” terang Fachir. (cw2/b)