Tuesday, 10 December 2019

Warga Bantargebang Minta Uang Bau Sampah Ditambah

Senin, 22 Oktober 2018 — 17:38 WIB
TPST Bantargebang Bekasi. (ist)

TPST Bantargebang Bekasi. (ist)

BEKASI – Uang bau yang diterima warga terdampak Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, dinilai terlalu kecil. “Dengan uang Rp 200 ribu, kami harus bertahan selama sebulan menghirup bau tidak sedap,” ujar Koirin, 54, warga Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat Senin (22/10/2018).

Menurut pedagang gorengan ini, uang yang diterimanya dari pengurus RT hanya bertahan dua hari untuk membeli pengharum pakaian dan deterjen anti-bau,” Dua puluh delapan hari kami harus bau terus,” ujar lelaki yang sejak kecil tinggal di sana.

Rumahnya hanya berjarak 50 meter dari gunung sampah, kalau beruntung aroma tidak sedap dari gunung sampah itu tidak masuk ke ruangan rumahnya. “Itu kalau tiupan anginya dari utara, saya aman,” katanya, sambil mengatakan , kalau tidak angin atau sebaliknya dari selatan, aroma tidak sedap masuk ke dalam rumah.

Hal serupa disampaikan Siti Aisyah, 40, ibu rumah tangga, warga Ciketik Udik yang rumahnya berjarak 200 meter dari zona 4 TPST Bantargebang.

Menurutnya, meski dana kompensasi dari pemerintah DKI yang dibayarkan melalui pemerintah Kota Bekasi lancar, tapi uang sebesar Rp 200 ribu dinilai terlalu kecil. “Enggak sebanding dengan apa yang kami rasakan,” kata dia.

Ais, sapaan akrab ibu dua anak ini mengeluhkan soal bising truk yang semakin hari semakin banyak. Deru mesin truk-truk besar cukup mengganggu ke telinganya. Apalagi, truk masuk ke dalam tempat pembuangan sampah itu selama 24 jam. “Lima tahun lalu enggak sebanyak sekarang truk sampah yang datang,” kata nya.

Lain halnya dengan Namin, 55, warga Sumurbatu, ini meminta rehabilitasi total TPST Bantargebang. Sebab, kompensasi uang bau sampah dinilai tak akan menyelesaikan persoalan bau sampah di wilayahnya. “Kalau tidak ada perbaikan, sampai kapan pun bau sampah pasti akan terjadi,” ujar dia.

Sebabnya, kata dia, gunungan sampah di TPST Bantargebang lebih tinggi dari pepohonan yang tumbuh di wilayah tersebut. Gunungan sampah itu, sampai saat ini terus tinggi karena tak ada teknologi untuk mengolah sampah. “Tergantung niat untuk mengolah sampah dengan teknologi,” ujar tokoh masyarakat ini.

Pemerintah DKI Jakarta memberikan kompensasi bau sampah kepada warga di tiga kelurahan di Kecamatan Bantargebang yang terdampak TPST Bantargebang, di antaranya kelurahan Cikiwul, Ciketing Udik, dan Sumur Batu. Total ada 18 ribu keluarga yang bermukim di sana. (saban/b)