Friday, 13 December 2019

Soal Larangan Kantong Plastik, Ini Kata Pedagang dan Pembeli

Kamis, 20 Desember 2018 — 7:10 WIB
Imah salah seorang pembeli sayur-sayuran yang menggunakan kantong plastik kresek. (wandi)

Imah salah seorang pembeli sayur-sayuran yang menggunakan kantong plastik kresek. (wandi)

JAKARTA – Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang pedagang di 153 pasar tradisional dan ritel atau swalayan menyediakan kantong kresek mendapat tanggapan dari pembeli dan pedagang.

Ternyata meski pedagang yang melanggar bakal didenda Rp5 juta program ini tetap didukung baik pembeli maupun pedagang. Meski begitu mereka juga berharap sebelum larangan ini diberlakukan pemerintah setelah mencarikan solusi terlebih dahulu.

Seperti yang diungkapkan Iman,37, pembeli yang ditemui, di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia mengaku sangat mendukung adanya larangan pemakaian kantong plastik kresek.

“Saya sangat setuju dan mendukung larangan ini, tapi pemerintah tolong dong dicarikan dulu sosulisinya. Sebab selama ini pemakaian kantong plastik kresek sudah berjalan bertahun-tahun sehingga agak lama untuk merubahkan, karena selama ini sudah ibu-ibu terutama sudah biasa belanja ke pasar tidak bawa tas pulang bawa kantong kresek,”terang Imah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Marsini,56. Hanya saja kata ibu rumah tangga ini dia mengaku kalau membawa tas dari rumah pasti ribet sehingga pembeli seperti dirinya sudah terbiasa belanja ke pasar pulangnya bawa kantong kresek.

“Ribet kalau mau bawa tas dari rumah, tapi kalau pakai kantong plastik pasti simpel sehingga banyak pembeli belanja inginnya tidak ribet. Ya kalaupun ini nanti dilarang pemerintah menyediakan tas dan mendatangi satu-persatu kepada pembeli terutama saat akan masuk ke dalam pasar,”terang warga Petogogan, Kebayoran Baru ini.

Sementara itu Agus, 35, pedagang sayuran di Pasar Santa mengaku pihaknya sudah beberapa waktu lalu mendapat sosialisasi terkait larangan penggunaan kantong kresek. Menurutnya, dalam sosialisasi ini pedagang maupun pembeli diminta menyediakan dan membawa tas pakai tas pandan.

“Memang beberapa bulan lalu ada sosialiasi larangan penggunakan kantong plastic kresek dan diminta beralih menggunakan tas pandan. Jika ini disediakan pedagang tentu para pedagang akan rugi karena harga tas tersebut cukup mahal makanya disini perlu adanya peranan pemerintah agar sama-sama diuntungkan,”terang Agus.

Pria asal Bogor, Jawa Barat mengakui dengan menggunakan kantong plastik kresek ini menciptakan sampah. Seharusnya pencegahan ini dilakukan sejak lama sehingga mau tidak mau masyarakat setiap kali belanja akan membawa tas dari rumah dan tidak menggunakan kantong plastic kresek seperti saat ini.

Dia juga mengaku jika melanggar akan didenda Rp5 juta itu dinilai sangat berat bagi dirinya pedagang kecil. Meski begitu pemerintah juga harus terus melakukan sosialisasi kalau perlu setiap pintu masuk pasar dijaga petugas untuk memberikan pemahaman kepada calon pembeli maupun pedagang, selain itu juga menyediakan tas yang harus dipakai tanpa menimbulkan sampah.

Seperti di beritakan sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta melarang pedagang di 153 pasar tradisional dan ritel atau swalayan menyediakan kantong kresek. Pedagang yang melanggar bakal didenda Rp5 juta.

Larangan ini dilakukan karena sampak plastik yang dibuang ke Bantar Gebang Bekasi ada sekitar 10 ton dari 7.200 ton sampah. Dan larangan tersebut secara bertahap diberlakukan pula pada toko swalayan dan pasar-pasar Tradisional yang ada di DKI Jakarta. (wandi/b)