Wednesday, 20 November 2019

Memasuki 2019, PSI Minta Prabowo Bertaubat

Rabu, 2 Januari 2019 — 10:09 WIB
Juru bicara PSI, Dedek Prayudi. (ist)

Juru bicara PSI, Dedek Prayudi. (ist)

JAKARTA – Calon Presiden (capres) Prabowo Subianto diminta berubah pada tahun 2019. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berharap agar Prabowo tidak lagi mengeluarkan pernyataan yang tidak berdasarkan fakta.

Juru bicara PSI, Dedek Prayudi mengaku, partainya mencatat setidaknya tiga kali Ketua Umum Partai Gerindra itu berpendapat tidak sesuai fakta dan data.

“PSI meminta Capres Prabowo Subianto untuk bertaubat pada 2019 dan tidak lagi mengedepankan kebohongan dalam kampanye. Dalam 2018, setidaknya kami menemukan tiga kebohongan besar yang kami duga sengaja dilakukan karena miskinnya gagasan pembangunan mereka,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu (2/1/2019).

Dedek menerangkan pernyataan yang dimaksud adalah pada Juli, Prabowo mengatakan kemiskinan meningkat 50 persen dalam lima tahun terakhir. Di sisi lain data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kemiskinan menurun dan menyentuh level dibawah 10 persen pada 2018.

“Data Bank Dunia, kemiskinan yang diukur dengan standard pendapatan USD 1,9 menurun secara konstan hingga menyentuh 5,7 persen,” terangnya.

Pernyataan lain dari Prabowo, lanjutnya, ialah saat menyebut 99 persen orang Indonesia hidup secara pas-pasan pada Oktober lalu. Dedek mengungkapkan, faktanya sesuai data Bank Dunia bahwa kelas menengah di Indonesia pada 2017 berjumlah 53 juta orang. Definisi kelas menengah bagi Bank Dunia adalah mereka berpenghasilan USD 10-50 per hari.

“Yang ketiga, soal LRT Indonesia mahal karena markup. Pada bulan Juni, Pak Prabowo mengatakan bahwa proyek MRT dan LRT di Indonesia termasuk yang termahal, terutama karena di-markup.  Faktanya, LRT Jabodetabek maupun Palembang termasuk yang paling murah dibandingkan negara lain,” ujar influencer Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo itu. (ikbal/ys)