Tuesday, 22 October 2019

Stop, Bully Membully Bung!

Sabtu, 2 Maret 2019 — 7:37 WIB
bully

“KENAPA kamu nggak sekolah, Nak?” Tanya seorang ibu pada anaknya yang mogok enggak mau masuk sekolah. Awalnya si anak mengaku sakit, tapi belakangan mengatakan selalu jadi sasaran ejekan dari kawan-kawannya. “Saya diejek; ‘gemuk, gombor, letoy, gede doang, tapi bloon…!’

Kalau dia mau selamat dari ejekan alias bully, ya harus keluar uang sogokan. Kalau sudah begitu, uang jajan dari orang tua habis, akibatnya dia seharian kelaparan karena nggak jajan!

Sang ibu terpaksa harus mendatangani sekolah sang anak, dan mengadu pada yang berwenang di sekolah tersebut.

Bahwa ternyata acara ejek mengejek, bully membuli pada seseorang di sekolah masih ada sampai kini. Banyak kasus yang sampai pada penganiayaan, dan si korban babak belur.

Bully membully bisa terjadi di mana-mana, bukan saja di ranah sekolahan, tapi bisa di tempat tongkrongan. Bahkan saling ejek mengejek bisa berlanjut ke perkelahian dan berakhir dengan kematian, alias pembunuhan.

Bully dalam ranah rumah tangga, bisa menjadi KDRT, dari caci maki kemudian memukul, menendang korban hingga tak berdaya. Apalagi ketika yang jadi sasaran bully adalah istri, wanita yang memang lemah. Kasus di Depok ,misalnya. Seorang istri digebuki sang suami sampai lumpuh.

Akibat bully ini memang ada dua kemungkin bagi yang kuat, ini menjadi pembakar semangat, dia akan buktikan pada dunia, aku ternyata bisa, lebih hebat dari mereka, para pembully, para pecundang!

Tapi, ada juga yang tak mampu bangkit, trauma dengan ejekan yang melemahkan dirinya. Dia putus asa. Tahu kan bagi orang putus asa, akan mencari jalan penyelesaian yang nggak pupuler bagi dirinya. Untuk bisa kuat, menempuh jalan yang salah, misalnya minuman keras dan narkoba? Dalam keadaan oleng, tak sadar mereka bisa nekat. Apa sajalah, termasuk nekat membunuh! –massoes