Tuesday, 22 October 2019

Grace Natalie: PSI adalah “Pengganggu Tidur” Parpol Lama

Selasa, 12 Maret 2019 — 9:47 WIB
Ketua Umum PSI, Grace Natalie saat menyampaikan pidato politik di Festival 11 di Medan, Sumatra Utara, Senin, (11/3/2019). (ist)

Ketua Umum PSI, Grace Natalie saat menyampaikan pidato politik di Festival 11 di Medan, Sumatra Utara, Senin, (11/3/2019). (ist)

MEDAN – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, menyatakan partainya adalah “pengganggu kenyamanan” partai-partai lama. Hal ini disampaikan dalam pidato politik  berjudul “Beda Kami ‘PSI’ dengan Partai Lain” di Festival 11 di Medan, Sumatra Utara, Senin, (11/3/2019).

“PSI akan menjadi pengganggu kenyamanan partai-partai lama. Kita akan mengganggu tidur siang panjang para politisi yang hanya bekerja lima tahun sekali,” kata dia.

Pernyataan tersebut disampaikan Grace, lantaran PSI melihat bahwa partai politik lama gagal memerangi korupsi dan tidak mengambil sikap pada isu-isu sensitif. “Bertahun-tahun, kami dan jutaan orang Indonesia lain, berharap partai politik menjadi lebih baik. Penantian yang tidak pernah terjadi. Negeri yang korup, dengan persoalan intoleransi yang akut, bukanlah sebuah tempat masa depan yang kami bayangkan,” ujarnya.

Grace memaparkan, menurut catatan akhir 2018 Indonesia Corruption Watch (ICW), kasus korupsi yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu menjadi kasus terbesar yang diungkap KPK pada 2018. Kasus ini juga menyeret sejumlah politikus, termasuk bekas Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Setya Novanto.

Selain itu, SETARA Institute mencatat pelanggaran atau kekerasan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia pada 2018 naik dibanidngkan dengan tahun lalu. SETARA mencatat hingga Juni 2018 ada 109 intoleransi dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan.

“Kami dan generasi di bawah kami tidak ingin hidup di negeri di mana uang pajak dicuri secara sistematis, di mana orang tak bisa menjalankan ibadah dengan tenang, negeri di mana orang bisa seenaknya menyebarkan kebencian SARA secara terbuka. Tidak, bukan seperti itu masa depan yang kami bayangkan,” tuntas Grace di hadapan sekitar 2.000 kader PSI dan para simpatisan. (ikbal/mb)