Thursday, 21 November 2019

Pengamat: Prabowo-Sandi Kurang Spesifik dalam Menyampaikan Gagasan

Jumat, 15 Maret 2019 — 22:43 WIB
Pasangan Capres 02 Prabowo - Sandiaga Uno. (rihadin)

Pasangan Capres 02 Prabowo - Sandiaga Uno. (rihadin)

JAKARTA – Cawapres Sandiaga Uno diminta untuk lebih jelas dalam memaparkan gagasan dalam debat melawan Cawapres Ma’ruf Amin. Selama ini Sandiaga dan capres Prabowo Subianto belum spesifik dalam menyampaikan gagasan kepada publik.

“Menurut saya, Prabowo-Sandi sering menyederhanakan persoalan,” ujar pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno dalam diskusi di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Adi mencontohkan Sandiaga hingga kini belum menjelaskan kepada publik mengenai desain pendidikan jika menang Pilpres 2019. Belum ada operasional dari visi dan misi Sandiaha. “Kalau Jokowi sudah jelas dia punya KIP dan program-program lainnya,” katanya.

Selain pendidikan, Adi juga mengingatkan Sandiaga untuk menggunakan data ketika berbicara soal ketenagakerjaan, terutama menyangkut pengangguran. Menurutnya  harus ada data persentase yang jelas agar Sandiaga tidak dianggap asal dalam mengkritik. “Kritik harus diukur dengan fakta dan temuan,” imbuh dia.

Di sisi lain, dia  juga meminta Ma’ruf dan Sandiaga tidak canggung untuk berdebat. Sebab, momen debat bisa mempengaruhi elektabilitas.

“Saya khawatir Sandi hanya akan sami’na waato’na dengan Kiai Ma’ruf. Dalam berbagai kesempatan dia bilang begitu. Saya tidak tahu apakah ini strategi politik atau bukan. Tapi, dalam tradisi pesantren, sami’na waato’na itu artinya tidak ada bantahan,” tuturnya.

“Kita ingin tanggal 17 April nanti ada debat lah. Jangan sampai ada reuni ulama dan santri, jadi hal substansinya tidak ada,” lanjut Adi.

Sementara itu pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansyah menilai program yang dimiliki pasangan Jokowi-Ma’ruf sudah bisa dirasakan sehingga bisa dikritik. Sementara program Prabowo-Sandi masih berupa formulasi.

Dalam hal kesehatan, Trubus mengapresiasi program minum susu yang bakal diterapkan jika Paslon 02 menang. Ia berharap program itu bukan hanya jargon.

“Kalau dari 01 kan sudah banyak program kesehatan, ada KIS, kartu keluarga harapan. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang mesti dibenahi,” ucapnya.

Dalam hal ketenagakerjaan, Trubus menyinggung soal janji paslon 02 untuk menghapus outsourcing. Ia mengingatkan janji itu tidak mudah direalisasikan karena Indonesia masih bergantung pada investor.

“Program 02 juga ada keinginan mencabut PP 78 soal pengupahan. Sebenarnya bisa dicabut, tapi apa rujukannya bagaimana menentukan upah,” ujarnya.

Terakhir, dia menyesalkan kedua paslon jarang mengangkat isu pendidikan dalam kampanye. Padahal menurutnya isu pendidikan merupakan isu yang strategis.

“Ini memprihatinkan, padahal ini sangat strategis. Anggaran pendidikan naik, tapi kualitas pendidikan belum naik,” kata Trubus.

Lebih dari itu, dia menilai visi dan misi kedua paslon sama-sama baik. Ia hanya meminta publik untuk menilai sendiri visi dan misi paslon mana yang paling mungkin diimplementasikan. (ikbal/win)