Friday, 18 October 2019

Indonesia Raih Dua Piala AIFFA 2019, Slamet Rahardjo Menerima Lifetime Achiefment

Minggu, 28 April 2019 — 11:21 WIB
ktor kawakan Indonesia, Slamet Rahardjo, 70, menerima penghargaan pengabdian seumur hidup dari AIFFA 2019 di kota Kuching, Serawak - Malaysia.(Ist)

ktor kawakan Indonesia, Slamet Rahardjo, 70, menerima penghargaan pengabdian seumur hidup dari AIFFA 2019 di kota Kuching, Serawak - Malaysia.(Ist)

KUCHING SERAWAK – Aktor kawakan Slamet Rahardjo tampil memukau ketika memberikan pidato di depan insan film ASEAN sesaat setelah menerima penghargaan pengabdian seumur hidup (Lifetime Achiefment Award) di ajang festival film ASEAN di kota Kuching –  Serawak,  Malaysia, Sabtu (27/4/2019) malam.

Hadir dalam acara itu aktor Hollywood Steven Segal. Juga Menteri Pariwisata Kesenian,  Pemuda dan Olahraga Serawak dan tokoh tokoh penting di Serawak.
“Penghargaan ini bukan hanya untuk saya tapi juga untuk insan film Indoneaia dan untuk ASEAN, ” katanya diaambut gemuruh tepuk tangan hadirin pada malam gala di Ballroom – Pullman Hotel di kota Kuching.
“Kita tak perlu membandingkan Hollywood atau Bollywood. Kita ASEAN punya karakter film sendiri.  Dan kita kaya. Dengan AIFFA, kota Kuching membuat sarang (nest) bagi saya dan kita semua untuk terbang, ” katanya.
“Putri saya sering mengingatkan,  ‘Ayah hati hati dalam bekerja’. Ingat kesehatan dan usia. Saya menjawab,  ‘Ayah tidak sedang bekerja. Film adalah hidup Ayah. This is my life !!” Kata aktor dan sutradara 70 tahun ini.
delegasi
Delegasi Artis Indonesia di ajang AIFFA 2019 saat malam gala di Pullman Hotel –  Kuching, Serawak, Malaysia.(ist)
Slamet Rahardjo Djarot terjun ke layar perak sejak 1971 lewat film “Wajah Seorang Laki laki” yang disutradarai Teguh Karya.  Namun sejak 1968 dia sudah aktif di teater Populer.
Debut filmnya disusul dengan  “Cinta Pertama” bersama Christine Hakim, berlanjut dengan – “Badai Pasti Berlalu” dan puluhan judul lainnya
Slamet Rahardjo terus berkarya selain menjadi aktor juga menulis cerita dan menyutradarai. Film “Rembulan Matahari” (1980)  Kembang Kertas (1985)  dabmn “Kodrat” (1987) langsung melesatkannya sebagai sutradara papan atas Indonesia.
Dia aktor terbaik lewat film “Ranjang Lengantin” (1975) dan “Di balik Kelambu” (1983).
Sebelum Slamet tampil di puncak acara, AIFFA memberikan gelar Aktris Terbaik (best actress) untuk Raihaanun untuk aktingnya di film “27 Step of May”  dan Editor Terbaik (best editor) untuk Wawan I. Wibowo lewat film “Ave Maryam”.
Aktris Olga Lidya tampil ke panggung mewakili Wawan I Wibowo. “Film ini memerlukan editing hjngga setahun, karena digarap dengan cara yang berbeda dibanding film umumnya, ” kata Olga Lidya, yang juga turut membintangi film “Ave Maryam” itu.
Sedangkan aktor Lukman Sardi tampil mewakili Raihanun. “Raihanun adalah aktris terbaik yang kami miliki. Dia aktris terbaik di Indonesia. Saya bangga menerima piala ini dan mewakilinya, ” katanya.
Penggagas dan Ketua Penyelenggara Livan Tajang menyatakan kelegaannya  atas penyenggaraan acara festival dua tahunan yang sudah berlangsung ke empat kalinya ini.
Banyak usulan masuk agar dibuat tiap tahun, katanya. “Tapi mengumpulkan orang film dari 10 negara di ASEAN tidak mudah, ” lanjutnya.
Dia memgenangkan  waktu pertama diselenggarakan, 2013 lalu,  pesertanya hanya 18 judul. Memasuki kali ke-4, di tahun ini, sudah ratusan. “Semua negara peserta memberikan dukungan penuh. Terima kasih, ” katanya dalam temu media, seusai malam gala.
Puncak acara AIFFA 2019 itu dimeriahkan oleh penyanyi Harvey Malaiholo (Indonesia), Sheila Madjid (Malaysia), Mario Mortel (Filipina)  dan komedian Selena Tan (Singapore) . (dimas)