Wednesday, 13 November 2019

Hanya Sampaikan Pendapat, Kivlan Bantah Lakukan Makar

Senin, 13 Mei 2019 — 14:21 WIB
Kivlan Zen  saat berunjuk rasa di depan kantor Bawaslu. (dok/timyadi)

Kivlan Zen saat berunjuk rasa di depan kantor Bawaslu. (dok/timyadi)

JAKARTA  –  Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein, dengan tegas membantah telah melakukan upaya makar seperti yang dituduhkan kepada dirinya. Dia menyatakan, hanya melakukan unjuk rasa sebagai kebebasan menyampaikan pendapat seperti yang diatur dalam undang-undang.

Kivlan mengatakan, dalam unjuk rasa tersebut dirinya bukanlah sebagai sosok inisiator maupun panitia. Dia hanya sebagai peserta yang menyampaikan pendapat dimuka umum. Bahkan, aksi unjuk rasa dia sebut telah ada surat pemberitahuan kepada Polisi.

“Sudah saya bantah dong. Masa bicara juga tidak boleh. Apa buktinya makar? Kan itu semua kebebasan dan keadilan kalau dituduh makar ya runtuhlah dunia ini. Tapi saya tidak apa, saya hadapilah kalau saya tidak salah,” kata Kivlan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

(BACA: Diperiksa Polisi, Kivlan: Saya Hadapi dengan Tenang Sajalah)

Dia mengaku tidak memiliki persiapan apapun untuk menghadapi penyidik dalam pemeriksaan hari ini sebagai saksi atas tuduhan makar. Kivlan sebut tidak membawa barang bukti apapun, selain undang-undang dirinya bebas menyampaikan pendapat.

Kivlan justru menyebut dirinya adalah salah satu yang ikut berjuang untuk kebebasan berpendapat, sehingga Presiden Habibie pada 1998 membuat undang-undang nomor 9 tahun 1998.

“Tidak benar makar. Saya tidak punya senjata, saya tidak punya pengikut, pasukan. Saya tidak punya niat untuk mendirikan negara sendiri, pemerintahan sendiri, nasional yang baru pengganti Jokowi, tidak ada,” tegas dia.

(BACA: Didampingi Pengacara, Kivlan Zen Penuhi Panggilan Bareskrim)

Kivlan juga mengaku tidak memiliki pasukan untuk berbuat makar. Ia menegaskan, hanya menyampaikan pendapat sesuai yang telah diatur dalam undang-undang.

“Tidak ada ucapan saya dan tidak ada ini pemerintahan saya, ini pasukan saya, tidak ada. Untuk merdeka buat negara harus ada pemerintahan, harus ada rakyat, ada kekuatan bersenjata, ada kedaulatan, dan saya tidak lakukan cuma omong merdeka kebebasan berpendapat sesuai uu no 9 tahun 99 kebebasan berpendapat,” tandas Kivlan. (yendhi/mb)