Tuesday, 15 October 2019

Bahas Perlindungan Wanita

Wakil Presiden ICW Giwo Rubianto Wiyogo Hadiri Majelis Umum ECICW di Ukraina

Senin, 3 Juni 2019 — 10:13 WIB
Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo Besama Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof. Dr. Yuddy  Chrisnandi.(ist)

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo Besama Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi.(ist)

JAKARTA – Indonesia sudah memiliki  perundangan untuk perlindungan perempuan seperti UU KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) , UU PA (Perlindungan Anak),  dan UU Anti Pornografi.

Bahkan saat ini pemerintah  sedang memperjuangkan  UU Penghapusan Kekerasan Seksual, UU Pekerja Rumah Tangga, kata Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, MP.d. sebagai salah satu Wakil Presiden dari International Council of Women (ICW) yang baru saja menghadiri Majelis Umum musim semi ECICW untuk membahas/mengadopsi resolusi hasil sidang umum ke-35 dari Dewan Perempuan Internasional yang berada di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Ukraina.

“Di Ukraina, mereka belum mempunyai perlindungan untuk perempuan karena negaranya baru merdeka. Tetapi kerjasama antar perempuan baik dalam komunitas maupun organisasi sangat baik, untuk maju bersama,” ujar  Giwo yang juga Ketua Umum Kowani ini.

Majelis Umum musim semi ECICW tahun ini diselenggarakan oleh Dewan Perempuan Internasional Pusat Eropa dan Dewan Nasional Perempuan Ukraina, diadakan di 2 (dua) kota yaitu Kota Kiev dan Kota Chernihiv, Ukraina, dari tanggal 19 Mei sampai 23 Mei 2019.

ECICW, sebagai salah satu organisasi regional dari Dewan Perempuan Internasional (ICW) memusatkan tujuannya untuk mempertemukan perempuan dengan latar belakang sejarah yang berbeda dan tahapan emansipasi yang beragam.

Majelis Umum ini juga dihadiri Presiden European Center of International Council of Women (ECICW), Cosima Schenk dan Ketua National Council of Women Ukraine, Lyudmyla Porokhnyak, serta Presiden International Council of Women (ICW), Jungsook Kim (Ed. D)

Kegiatan Majelis Umum termasuk Konferensi ilmiah-praktis dengan partisipasi internasional bertemakan “Kepribadian pro-sosial dalam dimensi gender: Aspek teoritis-metodologis dan terapan”.

Tak hanya itu, konferensi tersebut juga membahas perjalanan panjang dan intensif yang dilalui oleh para tenaga kerja perempuan Ukraina serta apa saja pencapaiannya yang terjadi melalui gejolak politik selama abad terakhir.

Disini merupakan kesempatan bagi para Delegasi Eropa dari organisasi ECICW untuk mengingat bahwa, terlepas dari siksaan yang diciptakan oleh perang dan revolusi, perempuan harus bertahan hidup, untuk diorganisir untuk memperbaiki kerusakan yang dapat diciptakan oleh konflik, dan demi kebaikan masyarakat dan keluarga. (mb/tri)