Friday, 15 November 2019

Aparat Keamanan di Sudan Dituduh Memperkosa Pengunjukrasa

Minggu, 16 Juni 2019 — 6:20 WIB
Korban kekerasan saat terjadi demo di Sudan

Korban kekerasan saat terjadi demo di Sudan

SUDAN-Sebuah kesatuan yang merupakan bagian dari aparat keamanan Sudan memerkosa perempuan selagi membubarkan demonstran di luar markas besar militer 12 hari lalu, kata sejumlah saksi mata kepada BBC.

Pejabat militer membantah tuduhan tersebut, namun Khalid (bukan nama sebenarnya) menceritakan kepada BBC tentang serangan seksual yang dia saksikan saat penindakan brutal pada hari itu.

Tatkala penembakan berlangsung sesaat setelah salat subuh, dia berlari mencari tempat berlindung di bangunan sekitar bersama demonstran lainnya.

Namun, ketika dua pemuda ini bersembunyi di ruangan di lantai atas, mereka mendengar suara jeritan. Didorong rasa keingintahuan, mereka mengintip ke bawah—ke arah anak tangga.

“Kami melihat enam serdadu memerkosa dua gadis,” ujar Khalid kepada BBC.
Khalid dan temannya berupaya mengintervensi dengan cara berteriak :pergi sana, pergi” ke arah para serdadu Pasukan Pendukung Cepat (RSF) yang lebih populer dengan sebutan Janjaweed.

Alih-alih menyudahi aksi mereka, para serdadu itu malah melepaskan tembakan ke Khalid dan temannya.

‘Dia berupaya memerkosa saya’

Saat kedua pemuda itu akhirnya berhasil menuruni anak tangga, serdadu sudah tidak di sana. Yang ada, perempuan muda dalam keadaan kalut.

Khalid, temannya, dan dua perempuan itu merupakan bagian dari kerumunan massa yang menggelar demonstrasi di luar markas militer di ibu kota Sudan, Khartoum.

Demonstrasi itu berujung pada kudeta pada awal April yang melengserkan Omar al-Bashir dari kursi presiden setelah hampir 30 tahun berkuasa. Namun, para demonstran tetap melancarkan unjuk rasa guna menuntut agar pemerintahan diserahkan ke sipil.

“Kedua perempuan itu tidak bicara apa-apa. Mereka hanya menangis dan menjerit, menangis dan menjerit, menangis dan menjerit. Saya berusaha menenangkan mereka,” kata Khalid.

“Saya berusaha membuat mereka lebih baik, tapi mereka tidak berhenti berteriak,” imbuhnya.

Khalid dan rekannya memutuskan membawa perempuan-perempuan itu ke sebuah masjid agar mereka bisa lebih aman dan ada yang mengurus—sementara kedua pria itu berupaya mencari tahu apakah mereka bisa lolos dari kawasan itu mengingat gas air mata dan peluru terus ditembakkan.

Akan tetapi, begitu keluar dari masjid Khalid ditangkap sekelompok serdadu Janjaweed dan akhirnya bertemu dengan salah satu prajurit yang dilihatnya memerkosa kedua perempuan.

“Dia mendorong saya ke tanah dan membawa sebatang baja yang panjang,” tutur Khalid.

Pada saat itu, menurutnya, para serdadu membawanya ke sebuah ruangan di lantai atas gedung tempat pemerkosaan berlangsung.

“Mereka berupaya melepaskan baju saya dan mencoba memerkosa saya. Saya berteriak sekeras mungkin agar ada orang yang datang.

“Setelah tiga atau empat kemudian ada tembakan di lantai bawah. Mereka melihat sekeliling ruangan dan berkata, ‘Lebih baik kita keluar’.”

Khalid kemudian berlari dan berhasil kabur walaupun dipukuli beberapa kali oleh serdadu Janjaweed dalam perjalanan ke rumah.
Informasi palsu untuk memperdaya khalayak dunia’

Sulit mendapat gambaran seutuhnya mengenai dugaan kekejian yang berlangsung ketika ribuan serdadu Janjaweed berhadapan dengan demonsran mengingat sambungan internet diputus—dan orang-orang takut berbicara.

Menurut kubu oposisi, lebih dari 100 orang tewas dalam aksi kekerasan—sebanyak 40 di antara mereka dilemparkan ke Sungai Nil.

Tidak diketahui berapa banyak orang yang diperkosa. Sejumlah rumor yang beredar menyebutkan bahwa pemerkosaan berlangsung di sejumlah tempat dan terus berlangsung selagi Janjaweed—yang namanya tersohor lantaran diduga melakukan kekejian di Darfur, negara bagian Blue Nile, dan Pegunungan Nuba—berpatroli di sekeliling kota.

Dewan Peralihan Militer, yang kini mengakui memerintahkan pembubaran unjuk rasa, membantah tuduhan kekerasan seksual.

“Informasi palsu yang disebarkan ke rakyat kami dan khalayak dunia dirancang untuk memperdaya mereka,” ujar juru bicara Letnan Jenderal Shams el-Din Kabashi.

Saksi mata lainnya, seorang pengemudi ambulans yang meminta identitasnya tidak diungkap, berkata kepada BBC bahwa dia melihat sejumlah serdadu meributkan siapa yang berhak memerkosa seorang perempuan.

Perempuan itu sedang digotong oleh tenaga medis ke ambulans yang dikemudikannya saat para serdadu mulai ribut.

“Mereka bertengkar soal perempuan itu, mereka meributkan siapa yang bisa mendapatkannya.”

Setelah para pria bersenjata itu sudah pergi, dia dan rekan-rekannya buru-buru menolong perempuan tersebut dan menemukan bahwa dia sudah meninggal.

“Kami menemukan bahwa perempuan itu sudah meninggal sejak awal. Namun, mereka tidak membiarkannya.”
‘Senjata untuk membunuh revolusi’

Bagi Sulaima Ishaq Sharif, yang mengepalai pusat trauma di Universitas Afhad, kesaksian-kesaksian ini tidak mengejutkan.

Disebutkannya, dia dan rekan-rekannya sedang merawat 12 perempuan yang diperkosa pada 3 Juni, berkunjung ke rumah mereka, dan mengajak mereka berbicara melalui telepon.

Dia meyakini jumlah korban amat mungkin lebih banyak karena insiden pemerkosaan tidak dilaporkan mengingat korban merasa malu dan takut mendapat stigma.

Bagi para tenaga kesehatan mental, aksi militer diwarnai oleh sejumlah ciri khas Janjaweed.

“Saya pergi ke lokasi demonstrasi setelah dua hari karena begitu banyak orang hilang. Beberapa tenda masih mengepulkan asap dari bawah.

“Semuanya hancur—sama seperti ketika Anda melalui desa-desa di Darfur tempat para prajurit menembak dan membunuh orang dan menjarah property. Gambarannya sama.”

Terkait dugaan pemerkosaan, Sharif meyakini para prajurit yang dituduh melakukannya sama sekali tidak betujuan memenuhi nafsu seksual.

“Semuanya terkait dengan menurunkan derajat manusia, mempermalukan, menumpas semangat. Ini bagian dari yang mereka lakukan di Darfur. Mereka menggunakannya sebagai alat, senjata perang.

“Kini senjata itu dipakai untuk membunuh revolusi,” papar Sharif.

Kembali ke Khalid, dia sepakat cedera psikologis lebih sulit diatasi ketimbang cedera fisik.

“DI rumah sekalipun, saya menjerit, saya menangis sendirian,” ujarnya.

Menurutnya, dia tidak bisa ikut konseling karena Janjaweed masih berada di jalan-jalan.

“Kapanpun saya melihat mereka, ingatan tentang segala hal yang saya lihat semuana muncul kembali.”

Bagaimanapun, menurutnya, penting bagi orang-orang untuk berbicara mengenai apa yang mereka saksikan.

“Seluruh dunia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, bukan yang militer katakan. Kebenaran.”(BBC)