Sunday, 17 November 2019

Sutopo, Petugas Kebersihan Terminal Kalideres Ingin Wujudkan Mimpi Pergi Haji dengan Istri

Minggu, 16 Juni 2019 — 16:35 WIB
Sutopo 61, petugas kebersihan di Terminal AKAP Kalideres, Jakbar. (Rachmi)

Sutopo 61, petugas kebersihan di Terminal AKAP Kalideres, Jakbar. (Rachmi)

JAKARTA – Berjuang hingga akhir hayat menjadi cambuk semangat bagi Sutopo,61. Memasuki usia senja, kakek satu cucu ini terus berjibaku bekerja sebagai petugas kebersihan di Terminal Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Kalideres, Jakarta Barat.

Impiannya untuk bisa menunaikan ibadah haji bersama istri, dan membuka warung kelontong, terus menggelayuti jiwa raganya.

“Cita-cita saya semula ingin menjadi ahli bangunan. Setelah tamat Sekolah Teknik (setara SMP) jurusan Teknik Bangunan di kampung, saya ingin melanjutkan ke STM tapi gagal karena tidak ada biaya,” kenang Sutopo seraya menyapu area terminal Kalideres, baru-baru ini.

Terik matahari yang menyengat maupun terpaan debu terminal menjadi ‘makanan’ sehari-hari anak keempat dari tujuh bersaudara ini. Ia pun sudah ‘kenyang’ dengan asap knalpot bus-bus AKAP yang singgah di terminal terbesar di Jakbar ini. Toh pria asal Purwokerto, Jawa Tengah ini melakoni pekerjaannya dengan semangat baja dan secercah senyum.

Keterlibatan Sutopo sebagai penyapu di Terminal Kalideres dimulai sejak 1985 bertepatan dengan pertama kalinya terminal tersebut beroperasi. Saat itu ia diajak temannya untuk bekerja di terminal menggantikan petugas kebersihan yang pindah kerja.

“Kesempatan tak datang dua kali. Jadi saya langsung terima tawaran pekerjaan sebagai petugas kebersihan, khawatir diambil pelamar lainnya,” imbuh pria gaek yang hobi memancing.

Sebelumnya usai tamat dari Sekolah Teknik (ST), pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah ini merantau ke Jakarta diajak abangnya (anak nomor satu) yang bekerja sebagai Satpam di ibukota.

Atas kasih sayang dan tanggung jawab seorang abang, Sutopo bisa menikmati pendidikan dari Sekolah Dasar hingga ST. Maklum kedua orangtua Sutopo sebagai petani penggarap di Purwokerto dengan ekonomi terbatas.

Sempat bekerja selama enam bulan sebagai kenek bangunan di komplek Bank, Mampang Prapatan, Jaksel. Itupun berkat keuletan abangnya yang membuka jalan bagi sang adik agar bisa mandiri. Sebagai kenek junior, Sutopo bekerja mulai pkl:07.00-15.00 dengan upah Rp1.600 per hari.

“Upah saya setiap hari Rp1.600. Saat itu nasi di warteg per porsi dengan lauk sederhana Rp300. Upah per hari harus saya hemat karena saya harus bantu abang saya untuk membayar uang petakan, dan saya harus bisa nabung,” kenang pria berjanggut putih ini.

Sutopo semakin berhemat dan rajin menabung dari honornya sebagai cleaning service di jajaran Dinas Perhubungan DKI Jakarta-kini di bawah pengelolaan UPT Terminal Angkutan Jalan.

Berbekal uang tabungan yang dimiliki setelah dua tahun bekerja di Terminal Kalideres, pada tahun 1987 ia menikah dengan pujaan hati. Dari pernikahannya dengan Nami, Sutopo memiliki tiga anak. Keluarga ini tinggal di kawasan Babelan, Bekasi.

Ada kebanggaan dan rasa syukur tiada tara bagi Sutopo karena berhasil menyekolahkan ketiga puteranya ke jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kendati ia hanya jebolan SMP.

Terlebih anak sulungnya sudah mandiri dengan membuka usaha air isi ulang di kawasan Bekasi. Anak kedua bekerja di pabrik baja di Pulogadung, Jaktim. Serta anak bungsu kerja di laundry di Bekasi dan memberinya seorang cucu yang imut-imut berusia 18 bulan. Anak sulung tinggal bersebelahan dengan Sutopo di Babelan, Bekasi.

Sebagai ‘pasukan tempur’ di Terminal Kalideres, Sutopo dan 15 petugas kebersihan lainnya bertanggungjawab menjaga kebersihan fasilitas publik tersebut.

Usai salat Subuh, pegawai kontrak yang tinggal di area parkir terminal ini langsung mengambil peralatan kerja untuk memulai tugas rutin setiap hari. Sejak dua tahun ia tinggal di lingkungan terminal, sedangkan istri dan anak-anaknya tetap bermukim di Bekasi. Minimal dua minggu sekali saat libur kerja ia menengok keluarga.

Bagi Sutopo, kebersihan dan keindahan terminal menjadi keniscayaan. Hasil kerja tim dan pemangku kepentingan di Terminal Kalideres yang dikomandani Revi Zulkarnaen ini membuahkan hasil gemilang karena mampu mendulang perolehan nilai signifikan bagi Pemko Jakbar sehingga meraih piala Adipura.

Hanya saja, Sutopo mengaku kerap masgul hatinya begitu melihat penumpang ataupun awak bus yang seenaknya membuang sampah sembarangan di area terminal. Padahal ia baru saja menyapu di lokasi itu.

“Saya dan teman-teman sudah banting tulang membersihkan terminal, makanya saat ada penumpang ataupun awak bus yang buang sampah sembarangan, wah sakitnya tuh di sini,” keluh Sutopo seraya mengelus dada dan menarik napas panjang.

Ibarat berpacu dengan waktu, Sutopo memprediksi masih sanggup lima tahun ke depan bekerja di lingkungan terminal. Di sela-sela tugas rutinnya itu, ia pun rajin mengumpulkan botol bekas kemasan air mineral.

Dalam kurun waktu dua bulan, sampah daur ulang itu bisa meraup sekitar Rp1,1 juta. Uang tersebut dikumpulkan sebagai bekal di masa tua untuk modal usaha membuka warung kelontong jika pensiun, dan yang terpenting agar kelak bersama istri bisa pergi haji untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. (rachmi/tri)

Terbaru

Benny K Harman. (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 23:58 WIB
Demokrat Tolak Amandemen UUD 1945
Lutfi JW. (mia)
Minggu, 17/11/2019 — 22:00 WIB
Bersama Roy Kiyoshi
Ruben Onsu Disarankan Undang Penuduh Pesugihan Makan Siang Bersama