Friday, 22 November 2019

Chris John yang Tidak Lelah Memajukan Tinju di Indonesia

Selasa, 18 Juni 2019 — 5:30 WIB
Chris John, Legenda Tinju Indonesia

Chris John, Legenda Tinju Indonesia

DIKENAL sebagai legenda tinju Indonesia, tidak lantas membuat Chris John, merasa puas. Pasca memutuskan ‘gantung sarung tinju’ akhir tahun 2013 pria bernama lengkap Yohannes Christian John itu bahkan tetap terus mengabdi untuk memajukan olahraga yang telah membesarkan namanya itu, meski tidak lagi berada di atas ring.

Melalui Chris John Indonesia sebagai wadah promotor tinju profesional serta yayasan miliknya, Chris John Foundation, pria yang genap berusia 40 pada 14 Sepetember mendatang itu kerap membantu petinju Indonesia untuk mengembangkan kemampuan mereka di atas ring. “Lelah? Saya kira tidak ada kata lelah untuk kembali menggelorakan pertinjuan di Indonesia yang sudah meredup dalam beberapa tahun terakhir,” kata Chris John.

Ia bahkan optimis jika pertinjuan di Indonesia bisa kembali berjaya, jika banyak orang di luar sana mau bersatu untuk memajukan pertinjuan di Indonesia. “Saya yakin di luar sana banyak yang peduli dengan dunia tinju. Hanya saja mungkin mereka bingung harus bagaimana dan melakukan apa? Makanya saya selalu memberikan dukungan setiap ada orang mau menjadi promotor untuk menggelar event tinju di Indonesia, salah satunya seperti mba Elisabeth Liu ini,” lanjut suami Anna Maria Megawati itu.

TAK DIRAGUKAN

Dalam memberikan dukungan kepada letinju profesional di Indonesia, usaha Chris John memang sudah tidak diragukan . Setelah memberi dukungan kepada petinju asal Papua, Geisler AP pada Maret lalu, melalui Chris John Foundation, ia kembali memberikan dukungan kepada petinju asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, Tibo Manabesa untuk beraksi pada ajang The Border Battle’ 2019 di GOR Flobamora, Kupang, NTT pada 7 Juli.

Meski sulit, namun ia siap mengerahkan segala kemampuannnya membantu suksesnya event tersebut. “Sulit, pasti, apalagi selama ini event-event tinju kurang mendapat dukungan dari pihak swasta untuk menjadi sponsor. Tapi kebetulan saya punya tim yang cukup oke di Chris John Indonesia dan Chris John Foundation dan saya yakin tim saya bisa membantu saya dalam mewujudkan apa yang saya cita-citakan untuk memajukan kembali pertinjuan di Indonesia,” ungkapnya.

Yayasan serta promotor tinju milik Chris John memang sengaja didirikan sekitar tiga tahun lalu. Berawal dari sikap keprihatinan, seiring meredupnya pertinjuan di Indonesia.

GAGAL NYALEG

Tidak hanya melalui yayasan serta promotor yang didirikannya , ia bahkan sempat menjajal dunia politik demi memudahkan usahanya memajukan olahraga tinju di Indonesia. Ia ikut bersaing dalam pemilihan anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah XI, mewakili Partai Nasional Demokrat (Nasdem) pada Pemilihan Legislatif di Pemilu 2019 .

“Tujuan saya untuk merambah ke dunia politik awalnya agar bisa mempermudah usaha saya dalam memajukan pertinjuan di Indonesia,” akunya. Sayang, ia gagal lolos untuk duduk di Senayan.

“Saya kira memang belum jalan saya (jadi wakil rakyat). Awalnya mungkin melalui dewan saya bisa lebih banyak bersuara mengenai tinju profesional di Indonesia dan mungkin ada kemampuan berbuat lebih dan ternyata belum rejekinya,” ungkapnya.

Meski demikian, pria yang pernah sukses 18 kali mempertahankan gelar juara dunia tinju WBA tersebut, mengaku tidak kecewa. Ia bahkan bersedia maju di pemilihan legislatif lima tahun mendatang, jika ada kesempatan. Kegagalan saat ini dijadikannya sebagai pengalaman berharga. “Ke depannya kalau ada yang dukung mungkin saja maju lagi jadi Caleg. Kalau nanti ada yang masih mendukung dan serius, kenapa enggak?,” jelasnya.

“Tujuan saya adalah untuk mengabdikan diri untuk pertinjuan di Indonesia. Yang pasti, pengadian saya untuk tinju di Indonesia, tidak akan berhenti, selama saya masih bisa memberikan apa yang saya miliki. Karena sekali lagi, itu adalah cita-cita saya sejak pensiun jadi petinju,” tuntas pria yang selama berkarier di dunia tinju, sudah naik ring sebanyak 52 kali dengan catatan 48 kali menang, 22 di antaranya di raih dengan kemenangan K.O, sekali kalah dan tiga kali hasil imbang itu. (junius/bu)