Monday, 09 December 2019

Ketika Pemulung Cabuli ABG Ah Cuma Sampai “Kantor RW”

Rabu, 19 Juni 2019 — 7:15 WIB
letoyo

NGAKUNYA Wiranu, 54, dia punya “burung” sudah tak berfungsi, sekedar untuk asesoris belaka. Tapi faktanya, dia bisa mencabuli gadis ABG Rinda, 15, sampai 5 kali dengan “honor” antara Rp 2.000,- hingga Rp 5.000,- Kepada polisi dia berterus terang, belum masuk “balai kota” sudah klimaks duluan, sehingga cukup sampai “kantor RW”.

Kebanyakan lelaki masih punya libido tinggi meski usia sudah kepala 7 bahkan 8. Tapi banyak pula orang yang usia baru kepala 5 sudah ngedrop dalam urusan menjalankan “sunah rosul” pada istri. Karenanya dia berupaya dengan berbagai cara agar “burung” miliknya masih bisa bernyanyi trilili…. kapan saja. Maka dulu ahli seksologi macam dr Pangkahila dan Naek L. Tobing selalu menjadi rujukan lelaki lemah syahwat.

Itu duluuuu! Sekarang, Wiranu warga Tanjung Perak Surabaya, harus berobat ke mana ketika mengalami problem serupa? Misalkan kedua dokter itu masih buka praktek, dana Wiranu juga tak mencukupi karena profesi sehari-harinya hanya pedagang es batu dan pemulung. Tragis kan, “burung”-nya bermasalah, jualan saja kok es batu, tentu saja dinginnya sampai ke mana-mana.

Wiranu sudah lama tak bisa menjalankan “sunah rosul” bersama istri tercinta. Ibarat bahan bakar, jenis solar, meski dekat api tak langsung nyamber. Beda dengan bensin maupun gas elpiji, ketemu “api” model Angela Vanessa langsung wush…… kebakaran heibat! Gara-gara ini pula, maka penjual es batu dan pemulung ini “suwi ora nganu” cocok dengan mamanya: Wiranu.

Tapi anehnya, jika ketemu Rinda ABG tetangga yang layak jadi anaknya, mendadak ukuran celana Wiranu berubah dari M ke XL. Sekali waktu dia memberanikan diri melobi si ABG itu untuk berpacu dalam birahi. Tentu saja Rinda menolak. Tapi karena dirayu terus dan dijanjikan ada honornya, akhirnya si ABG bersedia.

Dalam prakteknya, baru meraba-raba saja Wiranu sudah klimaks duluan. Tapi karena kalah janji, dia tetap kasih honor Rp 5.000,- tanpa potongan PPN tentu saja. Lain hari mencoba lagi, tapi lagi-lagi klimask duluan. Begitulah yang terjadi, sampai 5 kali mencoba, 5 kali itu pula gagal tidak sampai finish. Padahal Wiranu sudah kehilangan dana antara Rp 2.000 sampai Rp 5.000,- sekali kencan.

Tapi kencan terakhir itu rupanya terlihat orang, sehingga diadukan ke orangtuanya. Tentu saja keluarga tidak terima, sehingga dilaporkan ke polisi. Dengan sendirinya Wiranu langsung dicomot. Tapi dalam pemeriksaan dia mengaku bahwa meski mencabuli Rinda tapi tak pernah langsung pada sumbernya. Sebab “burung”-nya sudah lama tak berfungsi, sekedar untuk asesoris saja.

Makanya ibarat pemerintahan Dalam Negeri, Wirantu tak pernah sampai “balaikota”, karena sudah menyerah di “kantor RW”. Bukti visum et repertum memperkuat keterangan Wiranu, sebab tak ada cidera apapun di perangkat lunak Rinda. Ibarat kata masih utuh buntelan plastik.

Diperkuat dengan selotip pula. (Gunarso TS)