Friday, 22 November 2019

Bersaksi, Menag Lukman Ngaku Tak Sentuh Rp 10 Juta dari Haris

Rabu, 26 Juni 2019 — 21:04 WIB
Menteri Agama, Lukman Hakim  Saifuddin. (anton)

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. (anton)

JAKARTA – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  tampil Pengadilan Tipikor, Rabu (26/6/2019)  untuk bersaksi dalam kasu s jual beli jabatan, dengan terdakwa Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemenag Gresik Muafaq. Lukman mengakui ada uang Rp 10 juta dari Haris, tapi dia mengaku tidak pernah menyentuh.

Menteri Lukman  tentang kunjungannya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng di Jombang, Jawa Timur (Jatim). Pada saat itu ajudan Lukman yang disebutnya bernama Heri menerima Rp 10 juta dari Haris Hasanuddin, yang saat ini duduk sebagai terdakwa.

Dalam persidangan ini duduk dua terdakwa, yaitu Haris Hasanuddin dan M Muafaq Wirahadi. Keduanya merupakan mantan pejabat Kemenag di Jawa Timur (Jatim) yang didakwa menyuap mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy.

“Setelah saya tiba di rumah, ajudan saya menyampaikan, ‘Pak, ini ada titipan dari Haris, Kakanwil’, saya tanya, ‘Apa itu?'” kata  Lukman. “Honorarium tambahan, itu pernyataan ajudan saya,” katanya.

Lukman menaku langswsung  menolaknya. Dia memerintahkan ajudannya mengembalikan uang itu kepada Haris. “Saya rasa kegiatan di Tebuireng bukan kegiatan Kemenag dan tidak pada tempatnya terima honor tambahan. Malam itu juga, 9 Maret, kembalikan ke Haris,” ungkap Lukman.

Dia pun kemudian menyatakan, sama sekali dirinya tidak menyentuh uang Rp10 juta tersebut. “Jadi, jangankan menerima, menyentuh saja tidak,” imbuh Lukman sambil menyatakan tidak tahu jumlah uang tersebut.

Ternyata, kemudian Haris dijerat KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT). Saat itu si ajudan, disebut Lukman, mengaku kepadanya bahwa uang itu belum dikembalikan.

“Saya kaget. (Saya tanya) kenapa? (Heri) menjawab, ‘Karena saya penuh mendampingi Bapak dan kenyataannya itu sampai OTT’. Karena saya baru tahu 22 Maret masih ada di tangan Heri, maka saya memutuskan uang Rp 10 juta bukan hak saya. Saya laporkan sebagai gratifikasi ke KPK,” kata Lukman.

Soal  laporan Rp 10 juta sebagai gratifikasi dari Lukman itu pernah diungkapkan KPK. Namun Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyebut laporan itu tidak diproses karena pengembalian dilakukan setelah OTT.

“Itu dilaporkan sebagai gratifikasi, tapi setelah kejadian OTT. Oleh karena itu, kami tidak proses sebagai pelaporan gratifikasi,” ujaar  Syarif,  Mei 2019 lalu.

Uang Dari Kebubes Saudi

KPK  telah menemukan dan menyita nuang USD 30 ribu di laci Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam penggeledahan beberapa waktu lalu. Soal hal tersebut, Lukman menyebut duit USD 30 ribu yang disita dari lacinya berasal dari mantan pejabat Kedubes Arab Saudi untuk kegiatan sosial. KPK menyatakan Lukman seharusnya melaporkan penerimaan duit itu kepada KPK.

“Kalau memang uang tersebut diterima dalam hubungan jabatan seorang penyelenggara negara, semestinya paling lambat dalam waktu 30 hari kerja sudah dilaporkan ke KPK. Saya kira ini pengetahuan yang secara umum dipahami para penyelenggara negara,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (26/6/2019).

Febri mengatakan sebenarnya pihak Kementerian Agama (Kemenag), termasuk Lukman, pernah melaporkan penerimaan-penerimaan ke Direktorat Gratifikasi KPK. Dia meminta semua pihak menyimak proses persidangan apakah ada laporan USD 30 ribu dari Lukman atau tidak.

“Menteri Agama terakhir kan melaporkan gratifikasi yang Rp 10 juta itu. Apakah ada laporan yang USD 30 ribu, nanti kita simak saja di proses persidangan,” tuturnya.

Sebelumnya, Lukman menjelaskan asal-usul uang yang ditemukan KPK di laci meja kerjanya. Di antara duit dalam laci itu, jaksa KPK menemukan adanya uang dari pejabat Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi.

Mulanya Lukman menyebut sumber uang di laci itu adalah dana operasional menteri atau DOM, honorarium, dan sisa uang perjalanan dinasnya. Kemudian, setelah dicecar jaksa, Lukman mengakui, di antara uang di dalam laci itu, ada uang USD 30 ribu yang disebut berasal dari pejabat Kedubes Arab Saudi.

“Awalnya saya tidak terima, tapi dia bilang ini bentuk hadiah… dan tidak boleh saya terima itu. Ya sudah, berikan saja ke khairiyah, maksudnya kegiatan-kegiatan kebajikan, bakti sosial, pendidikan, dan aktivitas-aktivitas amal,” ucap Lukman saat menjadi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (26/6).

Pejabat Kedubes Arab Saudi itu, disebut Lukman, merupakan panitia dalam kegiatan MTQ internasional yang digelar di Jakarta. Mereka, disebut Lukman, puas terhadap kegiatan itu sehingga ingin memberikan hadiah kepada Lukman. (*/win)