Sunday, 20 October 2019

Cinta Besar, Mahar Besar

Rabu, 26 Juni 2019 — 7:11 WIB
geger nikahan

MAHAR atau ‘mas kawin’ adalah salah satu syarat perkawinan. Biasanya disebut dalam satu akad nikah, ‘saya terima nikahnya putri Bapak Annu dengan mas kawin emas sekian gram dan seperangkat alat solat, dibayar tunai!’ Lalu saksi pun akan mengucap ‘sah’ apabila ucapan akad tersebut lancar.

Belakangan mahar jadi pada naik daun gara gara sebagian mempelai pria memberi mahar dengan gila-gilaan. Seorang lelaki penjual bakso,misalnya, memberi mas kawin atau mahar pada calon istrinya, satu mobil Fortuner, satu sepeda motor dan emas sekian puluh gram. Di tempat lain, wanita menerima uang tunai Rp 500 juta dan emas puluhan gram, dan masih banyak lagi contoh lain.

Kalau saja, mereka si mempelai pria adalah pengusaha, pangeran atau anak orang kaya, selibriti barangkali hal itu biasa saja.  Tapi ini golongan orang biasa, dan viral pula di medsos. Mereka bilang, mas kawin besar karena cintanya sangat besar pada sang istri.

Tidak jelas, megapa mereka pada jor-joran memberi mahar istrinya, apa memang benar-benar rela karena cinta, atau hanya sekadar gagah-gagahan?

Ya, nggak tahulah. Tapi, yang jelas begitulah adanya. Walapun ada yang kemudian bermasalah, bahwa mobil yang dijadikan mahar disita polisi karena hasil kejahatan. Si pengantin pria tertipu, membeli mobil curian, kata polisi.

Ya, itu kasus. Tapi, kembali pada mahar itu sendiri, bahwa di zaman now, bukan berarti ada sebagian dari masyarakat yang tidak mampu. Hanya karena nggak punya mas kawin dia nggak jadi menikah. Padahal boleh mas kawin itu dihutang?

Atau  bisa beli dulu secara utang , nanti kalau sudah jadi pasangan suami istri, kan bisa dijual lagi untuk membayar utang mas kawin. Begitu?

“Eh, ngomong-ngomong Bapak masih punya hutang mas kawin lho sama Ibu,” kata istri Bang Jalil, “ Mas kawin dari Bapak dijual buat beli beras waktu Bapak nganggur, ingatkan?”

Bang Jali mengangguk, kaku.  – (massoes)