Sunday, 20 October 2019

Jika Bekas Pelawak jadi Rektor Palsu Ijazah Dapat Gelar Doktor

Rabu, 26 Juni 2019 — 6:28 WIB
komar

NURUL Qomar, 59, memang sosok serba bisa. Jadi pelawak bisa, jadi politisi bisa, jadi mubaligh oke, bahkan jadi rektor juga sudah dijalani, meski sekedar numpang lewat. Tapi gara-gara jadi rektor UMUS Brebes itulah, terkuak ijasah doktor (S3) diduga aspal. Kemarin mantan anggota DPR (Demokrat) dua periode itu ditahan di Polres Brebes. Qomar pun tidak lucu lagi.

Bagaimana bunyi KA di jalur Sumatra Utara? Kata Qomar saat jadi pelawak, “Bunyi KA di sana Ucokkk, Ucokkk, Ucokkkk…., sedangkan klaksonnya ketika ditarik masinis bunyinya: buteeeet, buteeeet! Penonton grup lawak “Empat sekawan” di TVRI tertawa terpingkal-pingkal.

Sekian tahun kemudian di era reformasi, tahu-tahu Qomar menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat. Bahkan sampai dua peeriode (2004-2014). Lucukah dia sebagai wakil rakyat? Oo, lucu habis! Soalnya, tak pernah ada suaranya, tak pernah omongannya dikutip pers. Yang penting baginya, tiap bulan Rp 50 juta masuk kantong, plus tunjangan dan fasilitas ini itu.

Entah berguru pada ustadz mana dan mondok di pesantren mana, ternyata jadi mubaligh Qomar mahir juga. Saat ceramah di Pekalongan –setidaknya bisa dilihat di Youtube– dia mengaku sebagai Ketua Dewan Syura POPSI (Persatuan Orang Pendek Seluruh Indonesia). Kata Qomar, Ketum-nya Ginanjar dan Sekjennya Ucok Baba.

Sebagai politisi Qomar tak terhenti hanya di Senayan saja. Pernah pula mengadu nasib dalam Pilkada Cirebon sampai dua kali (2013 dan 2018), tapi gagal. Berikutnya didengar kabar dia terpilih menjadi Rektor UMUS (Universitas Muhadi Setiabudi) Brebes sejak Februari 2017. Sayangnya Dr H. Nurul Qomar menjadi Rektor UMUS hanya numpang lewat, karena bulan Nopember di tahun yang sama mengundurkan diri dengan alasan konflik internal di kampus.

Tak ada angin tak ada hujan, mantan pelawak yang pernah poligami sampai 4 istri ini kemarin ditangkap dan ditahan di Polres Brebes. Dia jadi tersangka atas dugaan pemalsuan ijasah S2 dan S3, untuk memenuhi persyaratan dalam pemilihan Rektor UMUS. Padahal Ketua Yayasan,   Dr (HC) Muhadi Setiabudi, pasca pelantikan Qomar dulu kadung bilang, “Pak Qomar itu sudah berpengalaman di bidang pendidikan. Ia multitalenta dan mumpuni.”

“Konflik internal” di kampus itu rupanya ini. Paling ironis, di justru dilaporkan oleh     Muhadi Setiabudi Ketua Yayasan sendiri, yang sempat menyanjung Qomar sebagai sosok banyak talenta. Nasi telah menjadi bubur, maka paling aman dan bebas tuntutan hukum hanyalah memalsu gigi, memalsu rambut dan bulumata. – (gunarso ts)