Tuesday, 19 November 2019

Pemilu di Indonesia Dilanda Hoaks, Tapi Tak Seseram di Luar Negeri

Rabu, 26 Juni 2019 — 21:47 WIB
Diskusi dengan tema 'Pers di Pusaran Demokrasi' di Kominfo. (rizal)

Diskusi dengan tema 'Pers di Pusaran Demokrasi' di Kominfo. (rizal)

JAKARTA – Pemilihan Umum (Pemilu) yang ada di dunia saat ini selalu  terjangkiti ‘wabah’ hoaks yang begitu mengerikan. Termasuk dalam pesta demokrasi yang beberapa waktu lalu digelar serentak. Meski begitu, hoaks di Indonesia tidak mengerikan seperti Pemilu di luar ngeri.

“Epdemiepi hoaks sudah melanda pemilu di luar negri. Pemilu di Indonesia ada juga hoaks, tapi tidak seseram di luar negeri seperti di India atau Filipina,” kata Ketua Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Agus Sudibyo dalam Diskusi Media (Dismed) Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9),  di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Rabu (26/6/2019) .

Selain itu, Dewan Pers juga mengharapkan agar media ikut kontribusi dalam mewujudkan relaksasi politik dengan tidak menyajikan pemberitaan yang memperuncing suasana.

“Oleh karena itu dalam satu fase, media harus memberitakan dengan hati-hati dan dengan perspektif yang menyejukkan masyarakat,” katanya.

Agus mengatakan relaksasi politik oleh pers diperlukan untuk meredakan urat-urat politik yang tegang dan kaku setelah Pilpres 2019.  “Yang dibutuhkan adalah bagaimana pers bisa berkontribusi dengan cara memenuhi ruang publik media dengan pemberitaan yang membangkitkan harapan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Agus juga menyingung agar media arus utama untuk tidak mengikuti arus media sosial karena bisa mengandung kabar bohong dan belum terverikasi.

“Kami dorong publik bagaimana membedakan media yang benar-benar dan abal-abal. Mari baca informasi berkualitas salah satunya dari media yang terverikasi dewan pers dan berbadan hukum,” ucapnya.

Diskusi diangkat FMB 9  dengan tema ‘Pers di Pusaran Demokrasi’ dengan menghadirkan narasumber Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S. Depari, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Yuliandre Darwis, serta Ketua Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Agus Sudibyon serta dipandu oleh Prita Laura.

Ketua PWI Atal S. Depari mengatakan,  saat ini publik akan senantiasa percaya kepada hasil kerja wartawan. “Banyak orang yang mengatakan bahwa medsos seperti ancaman bagi pers yang serius. Tapi saya tidak begitu yakin. Menurut saya, kepercayaan publik sejainya tetap berada di pundak wartawan,” katanya.

Atal menegaskan, karena cuma wartawan yang memiliki pedoman penulisan, ada kode etik, dan produknya terverifikasi.  “Oleh karena itu, pers profesional tetap yang terpercaya dan terbaik. Asal mereka menghasilkan produknya dengan benar,” tuturnya.

Atal menjelaskan, dengan berpegang pada pedoman penulisan jurnalistik, maka pers tidak mungkin melakukan kebohongan. Sedangkan di sisi lainnya, sambung dia, ini era di mana siapapun bisa melakukan kebohongan informasi.

“Jadi mengapa pers tetap layak dipercaya, karena ada regulasi dan aturan yang mengkoridori kinerja jurnalis dalam menghasilkan informasi,” katanya. (rizal/win)