Wednesday, 16 October 2019

Masih Ada Guru yang Celamitan

Kamis, 27 Juni 2019 — 6:30 WIB
buku-pensil patah

GURU juga manusia, memang betul. Tapi bukan berarti terus berbuat seenaknya. Kalau sudah memilih sebagai pendidik, ya harus punya sikap mendidik.  Bahwa guru, harus begini begitu, mendidik, memberi contoh yang baik.

Ingat guru itu digugu dan ditiru, apa yang dilakukan guru akan diikuti oleh muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Ini pepatah masih berlaku, walapu pun zaman sudah berubah, serba canggih?

Sebelum menjadi guru, terjun mengajar, para pendidik ini digembleng soal etika, sopan santun, untuk diajarkan pada para didiknya menjadi orang yang tahu sopan santun, tahu unggah ungguh,hormat menghormati pada orang tua dst.

Jadi janganlah karena mengikuti zaman ini kemudian guru bebas dan bisa seenaknya. Apalagi bebas menggauli siswinya, seperti yang terjadi di Serang, Banten. Tiga guru asyik masyuk dengan siswinya sampai anak didiknya itu hamil?

Boleh, bahwa guru dan murid juga akrab. Murid nggak boleh takut sama guru, sebaliknya guru juga jangan sok galak. Nggak perlu galak, nggak ada artinya. Guru itu harus mengayomi. Guru bisa bertindak sebagai orang tua di sekolah. Tapi ya tadi jangan kebablasan, malah berkesan celamitan. Anak didiknya, yang masih bau kencur malah digagahi.

Ingat, bapak-bapak yang terhormat adalah guru, yang seharusnya memberi tahu bahwa perbuatan tersebut adalah salah, tidak dibenarkan. Benar, guru juga manusia yang juga punya nafsu. Tapi, harus bisa menjaga dengan baik, jangan nafsu diumbar.

Nah, sekarang bapak guru menyesal kan? Ya, tapi semua sudah terlanjur. Ini nasihat buat para guru yang lain, jangan umbar nafsu pada muridnya. Enaknya sekejap, tapi akan merusak masa depan yang sangat panjang! – (massoes)