Wednesday, 13 November 2019

Uji Emisi Tekan Polusi

Rabu, 3 Juli 2019 — 13:08 WIB

POLUSI udara Jakarta kembali menja di perbincangan menyusul penilaian tingkat pencemaran masih tinggi.

Udara Jakarta pada beberapa lokasi disebut tidak sehat.Meski masih debatable, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa tingkat polusi di Jakarta ditengarai masih cukup tinggi. Kondisi ini pula yang terus dicarikan solusi agar pencemaran udara dapat diturunkan.

Hasil kajian mengindikasikan kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar polusi udara Jakarta, di samping faktor lain seperti efek rumah kaca.

Data menyebutkan bahwa ada sejumlah unsur yang sering mencemari udara, yakni karbon monosida ( CO), nitogen oksida(Nox), hidrokarbon (HC), sulfur oksida (SOx) dan partikulat.

Dari sejumlah unsur tadi, karbon monoksida
yang terbesar menyumbang pencemaran. Sumber CO di antaranya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang memberikan sumbangan hingga 78,5 persen dari emisi total. Lebih dari setengahnya berasal dari pembakaran bensin otomotif. Maknanya, pembakaran bensin kendaraan bermotor memberi sumbangan besar bagi polusi udara.

Cukup berasan jika dikatakan polusi udara di kota – kota besar lebih tinggi, ketimbang di pedesaan, ini tak lain karena jumlah dan pertambahan kendaraan bermotor di kota besar seperti Jakarta, lebih tinggi. Jika ditambah lagi adanya kemacetan, tentu polusi akan semakin tinggi.

Itulah sebabnya, sering dikatakan kemacetan tak hanya merugikan secara ekonomi, juga menambah polusi. Sesuai data Bappenas, kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp65 triliun setiap tahunnya.

Ini baru kerugian materi, belum lagi gangguan kesehatan akibat polusi.

Kami mengepresiasi langkah yang ditempuh pemerintah daerah yang terus berupaya menekan angka kemacetan dan polusi udara dengan membenahi moda transportasi.

Uji emisi kendaraan bermotor secara berkala, ada di antaranya dilakukan secara gratis, bagian dari menekan polusi. Begitu juga penggunaan mobil listrik untuk angkutan umum.

Sayangnya uji emisi belum menjadi gerakan massal bagi pemilik kendaraan pribadi.

Belum juga menjadi kewajiban, kecuali diberlakukan kepada angkutan umum.

Ke depan, untuk menekan polusi udara Jakarta, perlu dipertimbangkan adanya kebijakan yang mendorong terciptanya kesadaran pemilik kendaraan pribadi untuk secara berkala uji emisi. Di sisi lain, melengkapi fasilitas dan prasarana uji emisi di antaranya dengan memperbanyak bengkel uji emisi. (*).