Saturday, 19 October 2019

Terkait Dana Kemah, Polda Metro Telah Periksa 45 Saksi

Kamis, 4 Juli 2019 — 18:52 WIB
Kabid Humas Poda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya. (firda)

Kabid Humas Poda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya. (firda)

JAKARTA – Sebanyak 45 saksi terkait kasus dugaan korupsi dana Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia telah diperiksa di Polda Metro Jaya. Adapun satu saksi di antaranya ialah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2014 – 2018, Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Sudah ada 45 saksi, kita lakukan pemeriksaan. Itu juga ada saksi ahli, sudah kita lakukan (pemeriksaan) semuanya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (4/7/2019).

Ia mengatakan, hingga kini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk dari pihak Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Tujuannya, guna melengkapi keterangan dari saksi sebelumnya, sehingga kasus tersebut dapat menemukan titik terang. “Wajar lah penyidik masih memeriksa (saksi-saksi lainnya),” sambungnya.

Dalam kasus tersebut, penyidik Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya baru menetapkan satu tersangka, yakni Ahmad Fanani.

Penetapan tersangka terhadap mantan Bendahara Pemuda Muhammadiyah itu dilakukan pada 19 Juni 2019, setelah penyidik melakukan gelar perkara.

Kegiatan Kemah Pemuda Islam Indonesia diadakan dengan dana APBN Kemenpora tahun anggaran 2017 dan turut melibatkan GP Ansor serta PP Pemuda Muhammadiyah. Kasus ini pun telah ditingkatkan ke tahap penyidikan oleh kepolisian. Sebab, ditemukan kerugian negara akibat kasus tersebut.

Bukti kerugian negara tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan saksi-saksi terkait kegiatan kemah Pemuda Islam Indonesia ini. Adapun saksi-saksi yang dimaksud, yakni Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar, Panitia Acara Dana Kemah dan Apel Pemuda Islam Indonesia dari Pemuda Muhammadiyah Ahmad Fanani, Ketua Kegiatan dari GP Ansor Safaruddin, dan Abdul Latif dari Kemenpora. (Firda/win)