Wednesday, 13 November 2019

Seniman Babak Belur Digebuki dalam Salon

Jumat, 5 Juli 2019 — 6:59 WIB
5-Dia-juli-19

MESKI disebut seniman, tapi Subar, 35, dari Kaltim ini tak pernah menciptakan karya seni. Bahkan beberapa hari lalu dia babak belur digebuki Joko, 34, di sebuah salon. Soalnya di situ dia asyik nunggui Mimi, 28, istri Joko yang sedang merias wajah, tanpa alasan jelas. Rupanya, seniman di sini berarti: senang istri teman!

Seniman berpakaian necis banyak. Tapi gambaran umum, selalu berpakaian sekenanya, rambut gondrong, tubuh kurus, kulit dekil. Tapi di balik kesederhanaannya itu lahirlah karya-karya heibat yang digemari masyarakat. PNS pada umumnya, kerja sebulan baru dapat gaji berjuta-juta. Tapi seniman lukis yang terkenal, hanya srat-sret beberapa jam, sudah laku jutaan. Bahkan pelukis Afandi dulu, menggaji sopirnya dengan lukisan yang dibikin dadakan.

Tapi seniman Subar dari Kota Samarinda, Kaltim, justru hasil karyanya bikin muak orang. Soalnya pekerjaan dia justru jadi pebinor alias perebut bini orang. Maka orang seperti dia, digebuki orang tidak sampai mati, sudahlah untung. Cuma jika nanti sampai hidung jadi bengkok misalnya, kisah mesumnya akan selaku dikenang orang. “Tuh, Subar hidungnya seperti itu gara-gara demenan sama bini teman.”

Subar dan Joko memang berteman, bahkan satu pekerjaan pada perusahaan kayu lapis. Namanya juga teman, saling berkunjung ke rumah adalah biasa. Yang tak biasa, ternyata Subar lama-lama jatuh cinta pada Mimi, bini Joko, yang memang cantik dan seksi macam artis sinetron sejuta episode. Setiap melihat penampilan Mimi, otaknya jadi ngeres, membayangkan yang mboten-mboten.

Celakanya, tanpa pakai deklarasi di alun-alun pun, cinta terpendam Subar ditanggapi positip oleh Mimi. Memang, secara kasat mata tongkrongan Joko lebih menjanjikan ketimbang suaminya. Dan ketika diuji coba pada koalisi dan eksekusi pertama, “tangkringan” teman suaminya ini sangat bikin Mimi merem melek nggak keruan. ”Uenak tenan,” jika mau mengutip ucapan pelawak Timbul.

Sejak itu Mimi sering diam-diam tinggalkan rumah sekedar untuk kencan bersama Subar. Sampai kemudian ada teman yang memberitahukan pada Joko bahwa jalan istrinya mulai nggak bener. Lho, apa jalan Mimi miring-miring apa ngobeng macam roda yang aus lakhernya? “Bukan, saya melihat istrimu boncengan motor sama lelaki lain,” kata sang informan.

Joko segera klarifikasi pada istrinya, tapi malah ditantang untuk membuktikan dalil-dalil tuduhannya. Karena Joko memang tak punya posita dan petitum yang memadai, akhirnya malah dia minta maaf pada istrinya, atas tuduhannya tersebut. Tentu saja Mimi semakin di atas angin, tanpa pakai pengacara Yusril Ihza Mahendra ataupun Otto Hasibuan pun, sudah bisa memenangkan “perkara”.

Merasa kepercayaan suami kembali normal, proyek selingkuh bersama Subar jalan lagi. Dia pamit pada suami mau ke salon. Tapi ternyata, dari pagi sampai sore Mimi tak kunjung pulang. Ke mana ini orang? Apa ikut mendaftar Capim KPK? Kecurigaan kembali berkecamuk. Joko segera menyusuri sejumlah salon di kota Samarinda,

Di sebuah salon, ternyata ada Mimi istrinya sedang merias wajah. Yang bikin Joko senep dan sepet di mata, di situ tampak Subar menunggui dengan duduk manis. “Ngapain kamu di sini?” tegur Joko ketus. Tapi ternyata Subar diam saja, membisu macam reca (patung) Nggladag di Solo. Dia malah merenungm menundukkan muka, seperti mengheningkan cipta. Padahal peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember masih jauh.

Joko jadi kalap. Kayu tatakan buat lewat sepeda motor diambil dan dipukulkan ke muka dan kepala Subar, pletakkk, pletakkk! Kontan “seniman” muda itu ambruk mandi darah. Para tetangga segera melerai. Subar dilarikan ke RS sementara Joko ditangkap dan diserahkan ke polisi. “Saya kesal Pak, apa nggak ada perempuan lain, istri teman sendiri kok diselingkuhi?” kata Joko di depan polisi, sebagai alasan kenapa menghajar Subar.

Ya ada sih, tapi namanya kan bukan lagi “seniman”? (gunarso ts)