Wednesday, 13 November 2019

Suka Pakai BH dan Celdam, Suami Malu Pada Tetangga

Sabtu, 6 Juli 2019 — 7:02 WIB
6-DIA-JULI-19

MESKI Kota Surabaya berhawa panas, pantaskah istri di rumah hanya pakai BH dan celdam? Ida, 34, jadi praktisinya, tanpa peduli tegoran tetangga dan suaminya. Wawan, 36, yang malu karena hampir tiap hari diprotes warga kanan kiri, akhirnya terpaksa mengalah, menceraikan Idan yang sudah dinikahi 6 tahun.

Kaum lelaki ngliga (telanjang dada) masih wajar saja, meski Capres sekalipun. Sebab mungkin karena merasa gerah. Tapi jika perempuan melakukan hal sama dengan alasan gerah juga, tentu saja bikin keenakan mata kaum lelaki. Tanpa harus lihat video porno di internet, sudah bisa menikmati gratis milik tetangga, karena tak terkena pajak tontonan.

Jika harus berkata jujur sebagaimana saksi di sidang MK, sebetulnya Wawan menyesal menikah dengan Ida. Soal kecantikan tak diragukan lagi. Tapi hobinya pamer kecantikan pada tetangga itu yang bikin perut Wawan mules. Bayangkan, dengan alasan suhu udara di Surabaya panas, di rumah dia sehari-hari hanya pakai kutang dengan celdam saja. Padahal dia tinggal di rumah kontrakan, sehingga bisa dilihat bebas oleh tetangga kanan kiri.

Di teras rumah, di dalam kamar di dapur, Ida selalu berkostum semi bugil, seperti Tarsan ouooo….. Buat Wawan sih biasa saja, wong dia melihat lebih dari itu kondisi Ida juga bisa dan biasa. Tapi para tetangga yang bukan pemilik domain, tentu saja terpana. Kaum lelaki sih senang-senang saja, bisa dapat pemandangan gratis nan syahdu. Tapi para ibu-ibu yang mencak-mencak. Dia khawatir suaminya jadi tertarik pada Ida dan melupakan anak istrinya.

“Mas Wawan, bisa nggak ngajar istri, sehingga sopan sedikit berpakaian?” tegur tetangga dengan keras. Sebetulnya bisa saja, dan sudah sering dilakukan, tapi tak digubris. Ketika suami masih ada di rumah, Ida mau berpakaian normal. Tapi begitu Wawan sudah berangkat ke kantor, kembali Ida bertelanjang ria seperti penduduk suku terasing. Para lelaki tetangga banyak yang diam-diam mengintip Ida berpakaian demikian, karena takut diculek istri matanya.

Lama-lama para tetangga habis kesabarannya, sehingga minta ketegasan Wawan untuk menasihati bini. Jika tidak, Ida mau dilaporkan ke polisi dengan pasal mengganggu ketertiban umum. Akhirnya Wawan ngeper juga. Tapi untuk bertindak sedikit keras tidak berani, takut dituduh kriminalisasi  istri. Maka jalan terakhir hanyalah, membawa Ida ke Pengadilan Agama Surabaya untuk bercerai. Kalau bisa majelis hakim menasihati sampai Ida sadar, jika tidak, ya sudah cerai saja, ilang-ilangan endog siji.

Memangnya ada endog yang lain? (*/Gunarso TS)