Thursday, 17 October 2019

Turun Pesawat, WNA Ketahuan Sembunyikan Sabu di Kancing Baju Tradisional Afrika

Kamis, 11 Juli 2019 — 18:39 WIB
sabu dikancing
TANGERANG – Pria paruh baya asal Republik Benin, Afrika, ditangkap petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta. Dia diamankan lantaran menyimpan 1.856 gram sabu dalam kancing  pakaian tradisional Afrika.

HMI (64) tak berkutik saat petugas menemukan 998 butir kancing berisi sabu. Barang laknat itu didapat setelah petugas memeriksa barang bawaan HMI usai menumpang pesawat Ethiopia menuju Jakarta, 22 Juni lalu.

“Kami mengetahui berdasarkan x-ray dan profiling penumpang. Ada 998 butir kancing yang terpasang pada delapan potongan pakaian tradisional Afrika, dan setelah diperiksa ternyata benar ada serbuk kristal putih yang setelah diidentifikasi merupakan sabu seberat 1.856 gram,” ujar Kepala Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Erwin Situmorang, Kamis (11/7/2019).

Lanjut Erwin, dari temuan itu pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk dilakukan controled delivery. Petugas gabungan lalu mengamankan seorang pria asal Indonesia berinisial AS (19). Remaja tanggung itu diketahui sebagai penerima barang dari HMI.

“Pada Minggu, 23 Juni 2019, tim gabungan akhirnya berhasil mengamankan seorang WNI berinisial AS, 19, yang mengaku diperintah untuk mengambil barang dari pelaku HMI,” katanya.

Sebelumnya, Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta juga berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu yang dibawa oleh warga negara asing Pantai Gading berinisial AT, 30, dengan cara menelannya. Petugas berhasil meringkusnya setelah dilakukan pemeriksaan rontgen.

“AT berhasil dibekuk karena menelan kapsul yang berisi sabu dengan total 47 butir kapsul atau seberat 798 gram sabu. Rencananya sabu itu akan dikirim ke wilayah Jakarta,” jelasnya.

Saat ini, ketiganya masih dalam penyelidikan pihak kepolisiam guna mencari pelaku lain yang terlibat.

“Ketiga pelaku dikenakan Undang-undang 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati, seumur hidup, atau penjara paling lama 20 tahun dan denda maksimum Rp10 miliar,” katanya.  (imam/yp)