Tuesday, 22 October 2019

Calon Anggota BPK Didominasi Politisi, Uchok: Layaknya Lobi Dukun dan Setan

Jumat, 12 Juli 2019 — 19:43 WIB
ucok

JAKARTA –   Seleksi pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)  kian panas.  Banyak kalangan mencurigai adanya lobi-lobi dalam   uji kepatutan dan kelayakan perserta seleksi bukan kompetensi melainkan mengandalkan lobi.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Center for Badget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi dalam diskusi dengan tema ‘BPK Diantara Tarikan Politisi dan Profesionalisme’ yang digelar di Pers Room Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Uchok menyebutkan, alasan ia menilai seperti itu dikarenakan komposisi peserta yang mendaftar. Ada 32 orang, 10 orang dari anggota Partai Politik, 10 internal BPK dan 10 sisanya adalah consultan, swasta dan akademisi.

“Yang akan banyak diambil dari politisi yang 10 anggota dewan itu, akan diambil 3 orang. Karena memang saya lihat alat uji testnya tim seleksi ini bukan untuk menguji kemampuan. Tetapi kekuatannya adalah lobi, siapa yang kuat lobi akan masuk jadi pimpinan.”

Uchok menambahkan, bila lobi yang menjadi penentu lolos atau tidaknya peserta seleksi itu sama dengan dukun dengan setan.

bpk

“Dukun itu ngelobi setan itu sesajennya harus kuat apakah nasih tumpeng, kembang itu harus kuat supaya dukun bisa masuk jadi apapun. Itu ilustrasinya saya tidak mengatakan suap menyuap ini ilustrasi saja,” katanya.

Di tempat yang sama,  Ketua Umum Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), Tartosunaryo menilai tugas BPK saat ini sangat berat, sehingga dibutuhkan orang-orang yang profesional dan bertanggungjawab. “Apalagi bicara audit LK (lembaga/kementerian), maka asosiasi profesi yang membidangi auditor laporan keuangan adalah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI,” katanya.

Sehingga keterwakilan seorang auditor yang memegang sertifikasi CPA (Certified Public Accountant) menjadi salah satu simbol komitmen bagi para pimpinan BPK dalam menerapkan profesionalisme dan menjamin kualitas pemeriksaan.

“Kami percaya Komisi XI DPR, telah berupaya menghasilkan yang terbaik dalam proses seleksi ini. Namun dalam rangka menjaga komitmen untuk menjamin kualitas hasil audit, profeslionalisme dan kesinambungan upaya penguatan kompetensi auditor, seharusnya penyempurnaan atas hasil seleksi administrasi dengan memasukkan para pemegang CPA untuk mengikuti tahapan berikutnya,” pungkas Tartosunaryo. (rizal/win)