Friday, 15 November 2019

Mardini, Kepala Desa Bentuk Genstar bagi Mantan Pecandu Rokok

Sabtu, 13 Juli 2019 — 8:16 WIB
Mardini, Kepala Desa Buding, Belitung Timur.

Mardini, Kepala Desa Buding, Belitung Timur.

KOMUNITAS  Generasi Sehat Tanpa Rokok atau Genstar awalnya didirikan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang berencana berhenti merokok. Melalui wadah tersebut, anggota Genstar yang kini berjumlah 20 orang saling berbagi pengalaman dan saling memberikan semangat untuk melawan godaan merokok.

Pada perkembangan berikutnya, Genstar kemudian menjadi gerakan kampanye hidup sehat bagi warga Desa Buding, Belitung Timur, Bangka Belitung. Kegiatannya tidak hanya edukasi bahaya rokok, tetapi juga olahraga bahkan pemberdayaan ekonomi pemuda seperti pelatihan sablon dan cukur rambut.

Genstar diinisasi oleh Mardini, Kepala Desa Buding pada tahun 2017. Pria yang awalnya perokok berat ini ingin membantu para perokok untuk berhenti merokok. Karena itu Genstar beranggotakan orang-orang yang semula adalah perokok berat.

“Berhenti merokok itu tidak mudah. Rasa sakit, lemas dan tidak bersemangat menjadikan orang akhirnya kembali merokok,” kata Mardini di sela Puncak Peringatan Hari Tanpa Tembakau yang digelar Kementerian Kesehatan kemarin.

Dorongan dari orang-orang sekitarnya termasuk keluarga menurut Mardini amat penting bagi orang yang berniat berhenti merokok. Genstar memfasilitasinya termasuk mencarikan bentuk-bentuk kegiatan agar orang lupa dengan rokok.

Mardini menceritakan bagaimana beratnya berhenti merokok. Apalagi bagi perokok berat seperti dia yang dalam sehari bisa menghabiskan tiga  bungkus rokok.

Satu-satunya alasan yang menguatkan adalah masa depan anaknya. Soal kesehatan dan kematian, bagi Mardini awalnya tidak masuk hitungan.

“Terus terang saya terpikir berhenti merokok ketika anak sulung saya yang waktu itu berusia 12 tahun ngambek tidak mau sekolah. Alasannya jadi bahan olok-olok teman karena baju seragamnya bolong akibat kena percikan api rokok,” kata Mardini.

Kasus yang terjadi pada 2009 tersebut membuat jiwa Mardini terguncang. Bagaimana mungkin anaknya tidak mau sekolah. Sejak itulah Mardini bertekad kuat untuk berhenti merokok.

PALING BERAT

Tahun pertama diakui menjadi tahun paling berat dilalui. Rasa sakit disekujur badan dan rasa malas bekerja nyaris membuatnya putus asa. Beruntung istri dan anaknya terus memberikan semangat hingga akhirnya benar-benar berhasil berhenti merokok pada tahun ketiga.

Mardini yang waktu itu masih berprofesi sebagai sopir tentu tidak mudah meninggalkan rokok. Lingkungan dimana ia bekerja memang akrab dengan asap rokok. Antar sesama sopir truk jika sedang berkumpul di tepat mangkal pasti kegiatanya tak jauh dari rokok.

Berhenti merokok tidak hanya berhasil memberikan semangat pada anaknya untuk tetap sekolah. Bagi Mardini, berhenti merokok juga menjadikan tubuh lebih sehat. Ini terbukti dengan berat badan yang bertambah 9 kg pada tahun pertama sejak berhenti merokok.

Untuk mengimbangi berat badannya yang terus bertambah, sekaligus melupakan rokok, Mardini kini rutin berolahraga. Hal yang jarang dilakukan saat masih menjadi prokok. Olahraga dilakukan tak sekedar untuk mengalihkan perhatian saat godaan untuk merokok datang, tetapi sekaligus mengendalikan berat badan yang cenderung naik.

Sejak berhasil tidak merokok, rupanya istrinya Misniati, diam-diam mengumpulkan cost rokok. Yakni uang yang selama ini digunakan Mardini untuk merokok. Selama 1,5 tahun istrinya, Misniati berhasil menyisihkan Rp10 juta.

Uang cost rokok tersebut kemudian dibelikan bibit kepala sawit dan karet. Kini kebun kepala sawit dan karetnya sudah memberikan hasil lumayan. Dari kebun sawit dan karet itu Mardini membukakan rekening tabungan pendidikan untuk dua anaknya.

ASAP ROKOK

Pria lulusan SMA tersebut tak hanya sukses berhenti merokok. Jabatannya sebagai kepala desa juga mampu menularkan kebiasaan baiknya tersebut kepada perangkat desa lainnya. Di bawah kepemimpinannya, kantor desa menjadi bebas asap rokok, termasuk rumah ibadah, tempat pendidikan dan ruang public lainnya.

“Genstar yang beranggotakan mantan pecandu rokok terus berjuang menyelamatkan generasi muda Desa Buding dari jeratan rokok,” jelasnya.

Mardini tahu bahwa rokok menjadi pintu masuk berbagai penyakit tidak menular, mulai dari jantung, paru, kanker dan penyakit katastropik lainnya. Pesan itu pula yang selalu dia bawa saat kampanye berhenti merokok baik yang dilakukan bersama Genstar, karang taruna maupun warga dalam berbagai kesempatan.

“Saya ingin selama menjabat, warga saya sehat, tidak sakit-sakitan. Makanya saya tak bosan mengajak warga berhenti merokok. Meski ada yang setuju ada yang tidak. Itu tantangan bagi saya. Tetapi dengan pengalaman saya sebagai mantan pecandu rokok, tentu akan memudahkan kampanye saya,” tutup Mardini.

Menkes Nila F Moeloek mengapresiasi terobosan yang dilakukan Mardini melalui Genstar. Komunitas ini menurutnya adalah bagian dari gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

“Saya berharap apa yang dilakukan Pak Mardini menjadi inspirasi bagi kepala desa lain untuk melakukan hal serupa,” tandas Menkes. (faisal/ruh)