Monday, 09 December 2019

Jokowi & Prabowo Bersalaman

Damai di Langit, Damai di Bumi

Senin, 15 Juli 2019 — 7:07 WIB
SENTIL-POLITIK-MRT

BANYAK yang merasa plong berlega hati ketika Jokowi-Prabowo berhasil dipertemukan dan bersalaman Sabtu lalu. Langit dan bumi pun terasa damai, menandai hilangnya istilah “kampret” dan “cebong”. Sayangnya pertemuan itu tak membahagiakan semua orang. Alumni 212 menilai Prabowo tak beradab, Amin Rais: kok nyelonong saja.

Sejak sebelum dan sesudah sidang keputusan MK soal sengketa Pilpres, kubu Jokowi berusaha bisa ketemu Prabowo Capres 02. Sayangnya kubu Tim BPN terkesan “jual mahal”. Berbagai alasan dikemukakan, agar pertemuan dua pemimpin bangsa itu tak usah bertemu.

Mereka tak mau berekonsiliasi, terutama Gerindra dan PKS, ingin menjadi oposisi secara konsekuen. Beda dengan PAN, dahan dan daunnya mulai condong ke KIK (Koalisi Indonesia Kerja), sementara Amien Rais selaku pokoknya, tak bergeming. “Jangan rabun ayam hanya karena 1 kursi menteri,” kata pendiri dan sesepuh PAN itu.

Tapi karena sudah menjadi jalan Tuhan, lewat dialog senyap Kepala BIN Budi Gunawan, pertemuan itu berhasil digelar dari stasiun MRT Lebak Bulus, hingga di atas KA MRT yang melaju cepat ke Stasiun Bunderan HI. Keduanya bersalaman, dan di kesempatan itu pula Prabowo mengucapkan selamat atas kemenangan Capres No. 01.

Damai di langit, damai pula di bumi. Dengan pertemuan ini diharapkan istilah “cebong” dan “kampret” hilang sudah. Sebab negeri ini terpolarisasi juga karena satwa angkatan udara dan air tersebut. Sekarang Prabowo bergandengan dengan Jokowi untuk sama-sama membangun negara demi mensejahterakan rakyat Indonesia.

Banyak yang merasa lega atas pertemuan itu. Namun tak semuanya demikian. Dari sisa-sisa Tim BPN yang sudah membubarkan diri, alumni 212 mengecam bahwa Prabowo sebagai tak beradab, karena semua diputuskan sendiri, tak mempedulikan “ijtima ulama” lagi. Demikian juga Amien Rais, menuduh Prabowo nyelonong saja.

Tapi Amien Rais mengakui, Prabowo kirim surat untuknya meski belum sempat dibacanya. Membaca surat itu nanti, paling-paling akan mengingatkan publik pada lagunya Lilis Suryani di tahun 1960-an, “Setelah kubaca isi suratmu yang telah lalu, aduhai sayang, hati sedih tiada terkira……(judul Air Mata-Red).  (gunarso ts)