Saturday, 19 October 2019

Daripada Dibatasi, Aptrindo Memilih Subsidi Solar Truk Dihapus Saja

Rabu, 17 Juli 2019 — 6:36 WIB
Kendaraan truk.

Kendaraan truk.

JAKARTA– Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menolak usulan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk membatasi penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar terhadap truk barang dengan roda lebih dari empat.

“Daripada dibatasi, pengusaha truk logistik lebih memilih subsidi solar dihapus dan beralih menggunakan solar industri sebab pembatasan BBM itu akan menghambat operasional truk,” tutur Ketua Umum DPP Aptrindo Gemilang Tarigan, Selasa (16/7/2019).

Menurutnya, pengusaha truk justru lebih setuju jika subsidi BBM jenis solar dihapuskan saja dan truk logistik sebaiknya menggunakan harga BBM industri, sebab subsidi solar selama ini tidak tepat sasaran lantaran yang menikmati subsidi tersebut bukan pengusaha angkutan truk logistik, melainkan justru dinikmati pengguna truk atau pemilik barang karena tarif angkutnya murah.

Sedangkan perusahaan truk tidak menikmati subsidi BBM solar itu, karena tarif angkut barang selalu mengacu pada harga BBM yang digunakan. “Sebaiknya industri logistik tidak perlu lagi disubsidi, diserahkan saja pada mekanisme pasar,” ujar Gemilang.

Gemilang Tarigan mengungkapkan, Aptrindo sudah menyampaikan langsung pandangan itu dalam rapat bersama stakeholders terkait di kantor BPH Migas  yang dihadiri juga  PT Pertamina (Persero), PT AKR Corporindo Tbk, dan DPP Hiswana Migas.

Dalam rapat itu, BPH Migas menyampaikan perlunya pembatasan volume penggunaan solar bersubsidi terhadap truk barang dengan roda lebih dari empat mengingat ada potensi over kuota penggunaan BBM tertentu/JBT (solar subsidi).

Bahkan, kata Gemilang,  BPH Migas menyampaikan kuota tahun ini hanya cukup untuk pemakaian sampai Oktober atau hanya cukup untuk tiga bulan saja. Makanya dinilai perlu pembatasan penggunaan JBT solar subsidi.

Dalam rapat itu juga terungkap usulan agar BPH Migas menyurati Pertamina untuk memberikan batasan pendistribusian kepada pengguna BBM subsidi maksimum 200 liter per transaksi per hari.

Berdasarkan data BPH Migas, kuota JBT jenis minyak solar tahun 2019 secara nasional sebesar 14,5 juta KL (dicadangkan 500.000 KL), adapun realisasi Januari hingga 31 Mei 2019 mencapai 6,4 juta KL atau 45,73 KL dari kuota penetapan. (dwi/win)