Wednesday, 23 October 2019

Arswendo Meninggal, Jadi Ingat ‘Senopati Pamungkas’

Jumat, 19 Juli 2019 — 19:44 WIB
Sastrawan Arswendo Atmowiloto. (wikipedia)

Sastrawan Arswendo Atmowiloto. (wikipedia)

JAKARTA – Arswendo Atmowiloto telah berpulang dalam usia 70 tahun. Arswendo dikenal sebagai sastrawan produktif dengan kelincahan ide-ide liar. Dia merupakan sastrawan yang menulis dalam bentuk cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film

Penyair kondang Prof Sapardi Djoko Damono pernah bercerita, Arswendo mampu membuat cerpen dalam setengah jam. Itu pun masih jaman mesin ketik. “Wendo itu luar biasa. Pernah satu media pesan cerpen ke dia, tapi dia lupa. Terus dia bilang, suruh menunggu setengah jam saja. Benar, cerpennya jadi,” kata Sapardi.

Dalam hal produktivitas, diakui Sapardi, memang luar biasa. Selain itu, ia juga menyebutkan soal ide-idenya yang liar dan menarik. Ia memberikan contoh dalam novel terkenal Arswendo, yang bertajuk ‘Senopati Pamungkas’. Menurut Sapardi, dalam novel itu mengambil sisi cerita silat dan mengempatkan tokoh-tokoh yang di luar sejarah.

(Baca: Arswendo Atmowiloto Meninggal)

Novel  Senopati Pamungkas itu sendiri sebelumnya pernah dimuat di majalah HAI pada 1984. Dua tahun kemudian, kisah silat itu dijadikan buku. Settingnya jaman akhir Singasari di era Raja Kertanegara, dan kemudian berlanjut ke awal Majapahit.

Sekilas ceritanya disebutkan, Baginda Raja Sri Kertanegara membawa Keraton Singasari ke puncak kejayaan yang tiada taranya pada awal sejarah keemasan. Pasukan Tartar yang berhasil menaklukkan dunia dipecundangi.

Umbul-umbul berlambang singa berkibar ke seberang lautan. Idenya mendirikan Ksatria Pingitan, semacam asrama yang mendidik para prajurit sejak usia dini, menghasilkan banyak ksatria. Di antaranya Upasara Wulung, yang sepanjang usianya dihabiskan di situ.

Upasara Wulung terlibat dalam intrik Keraton, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, keculasan, terseret arus jago-jago kelas utama: mulai dari Tartar di negeri Cina, Puun Banten, puncak gunung, dengan segala ilmu yang aneh. Juga lintasan asmara yang menggeletarkan.

Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan, di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi nama berbeda, tetapi intinya sama. Pasrah diri secara total.

Dia diangkat sebagai senopati oleh Raden Wijaya, yang mendirikan Majapahit dengan satu tekad: “Seorang brahmana yang suci bisa bersemadi, tetapi seorang ksatria mempunyai tugas bertempur, membela tanah kelahiran.”

Belakangan, novel itu dicetak ulang dengan ukuran fisik lebih besar dan lebih tebal. (*/win)

Terbaru

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi sekaligus Bupati Sukabumi, Marwan Hamami (kaos hitam) saat memperingati HUT Partai Golkar ke-55. (ist)
Rabu, 23/10/2019 — 14:22 WIB
Pilkada Kabupaten Sukabumi 2020
Penantang Petahana Menyeruak, Jagoan Golkar Masih Kuat