Wednesday, 23 October 2019

Memaknai Gambar Wayang Saat Pertemuan Jokowi – Prabowo

Minggu, 21 Juli 2019 — 6:39 WIB
Jokowi dan Prabowo di depan lukisan wyang punokawan Astina dan Pandawa.  (toga)

Jokowi dan Prabowo di depan lukisan wyang punokawan Astina dan Pandawa. (toga)

JAKARTA – Pertemuan antara tokoh nasional Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, mengundang khalayak untuk  memberi makna, sesuai tafsiran masing-masing.

Pertemuan yang diadakan di dalam gerbong MRT (mass rapid transport) atau juga disebut Moda Raya Terpadu (MRT) ada yang memaknasi bahwa Prabowo sudah ikut satu gerbong dengan Jokowi, jadi rekonsiliasi sudah bisa terjadi. Tentu ini pemaknaan dari kubu anak buah Jokowi.

Ada lagi pemaknaan, pertemua diadakan di dalam MRT itu menunjukkan Prabowo sudah mengerti soal pemabangunan yang dilakukan Jokowi yang mengedepankan infrastruktut. MRT merupakan simbol infrastruktur modern di era Jokowi.

Mungkin masih banyak lagi soal pemaknaan soal pertemua kedua tokoh yang pernah berlaga dua kali dalam Pilpres tersebut, yakni pilpres 2014 dan 2019.

Yang menarik dan belum mendapat perhatian orang adalah letak duduk untuk tempat makan kedua tokoh di satu restoran di kawasan Senayan itu. Jokowi dan Prabowo yang duduk makan bersama, tanpa ada petinggi kedua belah pihak yang mendampingi. Ini khas Jokowi, ingin tampil mencolok dan mudah dijepret kamera tanpa pendamping bawahannya.

Bukan soal itu yang akan diungkap di sini, tetapi di belakang tempat duduk itu tedapat gambar wayang yang merupakan punakawan (baca punokawan) dari kedua pihak yang bermusuhan.

Lukisan kaca dengan sorot lampu, dari berbagai foto terlihat, di sana ada punokawan (pembantu kstatria) dari Astina (bala Kurawa) yakni Togog dan mBilung. Di seberangnya, ada punokawan Pandawa, yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk (tak terlihat Bagongnya). Punokawan tersebut adalah simbol rakyat.

Kenapa kedua tokoh puncak itu duduk di depan lukisan wayang seperti itu? Ini yang menarik sebagai semiotik atauapun simbol politik. Sebab, wayang seringkali menjadi simbolik politik yang menggelitik.

Pertama yang harus dilihat adalah, wayang yang terpampang adalah punokawan dari kedua belah pihak (Pandawa dan Kurawa). Punakawan adalah simbol rakyat. Jadi, kedua pemimpin twrsebut berdiri di depan rakyat.

 

Lantas, rakyat yang dimaksud adalah berasal dari kedua belah pihak yang berseteru (dari Pamdawa dan Kurawa). Ketika kedua pemimpin sudah duduk dan bojana andrawina (makan bersama dalam pasamuan) dalam suasana akrab pertamda rekonsiloasi, maka wayang-wayang yang sebagai simbol rakyat tersebut juga dengan harapan terjadi rekonsiliasi untuk bersatu dalam satu bangsa dan negara.

 

Tetapi kenapa Jokowi justru duduk di depan punakawan dari Kurawa, yakni Togog dan mbilung? Sedangkan Prabowo di depan di depan punakawan Pandawa (Semar, Gareng, Petruk)?

 

Ini tidak menjadi masalah bagi Jokowi. Karena dia sudah menyatakan menjadi Presiden untuk seluruh rakyat. Sehingga, bukan dalam arti Jokowi sebagai pihak Kurawa.

 

Akan menjadi arti lain kalau justru punakawan Kurawa tersebut berada di belakang Prabowo. Tafsirannya akan macam-macam dan menimbulkan tudingan bahwa acara itu menempatkan Prabowo sebagai pihak Kurawa yang notabene pihak yang berbuat jahat.

Dengan demikian, penataan tempat duduk kedua tokoh dan gambar wayang tersebut ingin menunjukkan rekonsiliasi yang menyeluruh, dan ada sikap bijaksana dari Jokowi.

 

Demikianlah sekilas pemaknaan gambar wayang tokoh-tokoh punakawan dalam kaitamnya dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo. Sebenarnya akan lebih lengkap dan tandas kalau ada pentas wayang kulit yang menandakan pertemuan tersebut. (win)