Tuesday, 10 December 2019

Nurlaili, Atlet Bolavoli Ogah Disebut ‘Bayi Ajaib’ Lagi

Selasa, 23 Juli 2019 — 8:31 WIB
Atlet putri andalan Indonesia cabor bola voli ASG 2019, Nurlaili Kusumah Diningrat.

Atlet putri andalan Indonesia cabor bola voli ASG 2019, Nurlaili Kusumah Diningrat.

TAMPIL untuk kedua kalinya di ajang ASEAN Schools Games (ASG), sudah tidak lagi membuat Nurlaili Kusumah Diningrat grogi. Ia bahkan menolak untuk disebut ‘bayi ajaib’ lagi pada ajang multievent khusus para pelajar se-Asia di Semarang, Jawa Tengah hingga 24 Juli mendatang.

Pada ASG di Selangor, Malaysia 2018 lalu, Nurlaili merupakan atlet termuda dalam skuad Tim bola boli putri Indonesia. Meski berusia paling muda di antara rekan-rekannya, ia mampu menjadi sorotan, berkat penampilan cemerlangnya. Julukan ‘bayi ajaib’ bahkan sampai melekat pada dirinya. Sayang, saat itu, Nurlaili dan kolega gagal mempersembahkan medali emas bagi Indonesia setelah takluk dari Thailand dengan skor
2-3 (25-19, 18-25, 25-22, 17-25, 11-15) pada partai final.

Nurlaili lantas berharap bisa membayar kegagalan tersebut pada ajang yang sama di depan publik sendiri, tahun ini. “Ya, ini kedua kalinya saya ikut ASG jadi kalau ditanya soal grogi, kayanya udah gak lagi sih. Cuma tahun ini kan agak sedikit beban karena kita tampil sebagai tuan rumah dan ditargetin harus bisa meraih medali emas. Tahun lalu kita gagal meraih emas setelah kalah dari Thailand dan sekarang saya ingin membayar kegagalan tersebut di hadapan masyarakat Indonesia,” kata Nurlaili dengan nada optimis.

Rasa optimis tersebut bahkan sudah ia rasakan selama persiapan menjelang ASG 2019 digelar pada Jumat (19/7/2019). “Kalau soal persiapan tahun ini, lebih baik dari tahun lalu. Kalau tahun kemarin kan cuma seminggu. Kalau tahun ini persiapannya kurang lebih hampir satu bulan dan kita benar-benar disiapin untuk meraih emas dengan melalukan ujitanding sebelum even berlangsung. Jadi lebih percaya diri saja kalau tahun ini,” ungkapnya.

MILIKI PENGALAMAN

Siswi kelas 1 SMA Pasundan, Bandung, Jawa Barat tersebut juga mengaku dirinya tidak mau disebut ‘bayi ajaib’ lagi karena pengalaman yang sudah dimilikinya di ASG tahun ini. “Kalau sekarang kan sudah bukan paling kecil lagi, sudah agak gede lah sedikit. Lagipula tahun ini ada beberapa atlet yang lebih muda dari saya, sehingga saya harus bisa membimbing mereka juga di ASG tahun ini,” beber atlet yang bernaung di bawah panji Wahana Express tersebut.

Soal pengalaman, Nurlaili memang sudah tidak diragukan lagi. Ia mampu menembus tim utama Jakarta BNI Taplus pada ajang Proliga pada 2019 lalu. Ia mampu menggantikan peran pemain asing asal Puerto Riko, Ocasio yang dilanda cedera. Di usianya yang masih sangat belia, Nurlaili mampu menjadi tumpuan serangan tim Jakarta BNI Taplus, ia tak canggung ketika bermain dengan para pemain yang sudah kenyang pengalaman seperti Yolla Yuliana, Tri Retno Mutiara, dan lainnya.

Nurlaili juga tak gentar ketika berhadapan dengan para pemain asing yang memiliki tinggi badan jauh diatasnya, padahal tinggi Nurlaili hanya 169 cm.

Terlahir dari pasangan Dandan Gunadi dan Irawati di Bandung pada 2003, Nurlaili awalnya terjun ke dunia voli atas kemauannya sendiri. “Awalnya diminta oleh guru olahraga untuk mengikuti ekstra kulikuler bola voli di sekolah lain. Lalu guru saya meminta saya masuk klub pembinaan khusus bola voli untuk mengasah bakat saya,” kenangnya.

Nurlaili pun mulai serius menggeluti olahraga bola voli bersama Wahana Express Bandung. “Di sana saya langsung ditangani pelatih Risco Herlambang. Sempat ngeluh juga, soalnya latihannya full dari Senin sampe Sabtu, pas awal-awal masuk sempet sakit karena belum terbiasa latihan keras, ga sampe pingsan sih paling sesak nafas sama lemas banget kalau sudah latihan, tapi ini udah jadi pilihan aku dan harus dipaksain kalau mau jadi pemain bagus,” ujar Nurlalili

Dengan pengalamannya itu, Laili yakin bisa mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ASG tahun ini. Hingga berita ini diturunkan, Senin (22/7), Laili dan kolega masih bertarung di fase penyisihan Grup Y. Indonesia bakal menghadapi Singapura. Selain Singapura, Indonesia tergabung bersama Malaysia, dan Myanmar. Sedangkan di Grup X, ada Thailand, Filipina, Laos, dan Kamboja. (junius/bu)