Monday, 09 December 2019

Peduli Lingkungan

Senin, 29 Juli 2019 — 7:18 WIB

Oleh Harmoko

POSISI Indonesia yang terletak di daerah tropis dan dilintasi garis katulistiwa menjadikan negeri kita hanya memiliki dua musim, penghujan dan kemarau.

Kemarau identik dengan kekeringan, sedangkan hujan terkait banjir. Tak heran jika sering terdengar ungkapan: Ketika musim hujan datang, banjir menerjang, begitu kemarau tiba, kekeringan pun melanda.

Ungkapan ini sebenarnya tidaklah aneh, jika mengacu kepada kondisi alam kita, adanya hubungan sebab akibat. Hujan akan mendatangkan banjir atau banjir terjadi karena adanya hujan.

Begitu pula kemarau akan menyebabkan kekeringan atau kekeringan melanda karena hujan tiada. Air pun menjadi barang langka. Seperti musim kemarau sekarang ini sejumlah daerah mengalami kekeringan yang diprediksi akan menyebabkan dampak buruk terhadap areal persawahan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pekan lalu menyebutkan sebanyak 75 kabupaten dan kota di tujuh provinsi terdampak bencana
kekeringan. Terinci, sebanyak 21 kabupaten berada di Jawa Barat, 21 kabupaten di Jawa Tengah, 15 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), 10 kabupaten di Jawa Timur, 9 kapupaten di Nusa Tenggara Barat ( NTB ), 2 kabupaten di Yogyakarta dan 1 kabupaten di Banten.

Sementara kita tahu persis bahwa areal persawahan banyak tersebar di wilayah Jawa, NTT dan NTB dan Bali. Maknanya daerah tersebut merupakan
penyumbang terbesar stok pangan nasional. Jika gagal panen, dampak buruk berikutnya adalah cadangan stok pangan nasional akan terganggu yang akan berakibat buruk juga di sektor lainnya.

Kita dapat memahami musim kemarau panjang menjadi penyebab kekeringan, tetapi bukan satu- satunya. Masih banyak faktor penyebab lainnya yang jika diurai, permasalahannya cukup kompleks, karena di dalamnya menyangkut perilaku masyarakat sebagai pengguna air.

Sejatinya negeri kita diakui dunia subur makmur, gemah* ripah loh jinawi *(memiliki kekayaan alam yang berlimpah). Itu di antaranya karena Indonesia diberi karunia adanya musim kemarau dan penghujan yang menjadikan segala jenis tanaman dapat tumbuh subur.

Hendaknya kita bersyukur atas karunia itu yang teraplikasi melalui perencanaan yang matang bagaimana mengelola dua musim itu. Sehingga ketika
musim hujan tidak kebanjiran, begitu musim kemarau tidak kering kerontang. Hasil studi sejumlah akademisi menyebutkan kekeringan terjadi karena daerah resapan yang kian berkurang akibat makin sedikitnya pohon yang ditanam. Di sisi lain, peralihan lahan pertanian menjadi industri tidak dibarengi dengan lahan pengganti.

Perilaku tidak hemat air, juga ikut andil menjadi penyebab kekeringan. Memang air bekas pakai, yang kita buang akan meresap dalam tanah menjadi sumber air baru. Sayangnya tidak semua air dapat meresap dalam tanah karena tidak cukup tersedia daerah resapan. Akibatnya sebagian air buangan akan menguap terkena sinar matahari. Siklus demikian yang terus berlanjut membuat sumber air kian berkurang, yang dirasakan kemudian, musim kemarau baru datang, sudah terjadi kekeringan.

Itulah sebabnya kita perlu peduli lingkungan sekitar untuk mengatasi dampak kekeringan. Ada sejumlah hal yang sekiranya menjadi kebiasaan positif yang perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari – hari.

* Pertama*, sikap peduli memperbanyak sumber air dengan membangun daerah
resapan.

* Kedua*, sikap peduli menanam pohon di sekitar rumah, lingkungan masyarakat. Bahkan,sekiranya memungkinkan memotivasi warga melalui gerakan penghijauan lingkungan.

* Ketiga*, hemat menggunakan air. Meski air melimpah, sumber air tak pernah habis di lingkungan rumahnya, tempat tinggalnya, tidak lantas boros air.

Sumber air perlu kita jaga untuk anak cucu keturunan kita. Lagi pula agama apa pun mengajarkan agar kita senantiasa hidup hemat,
termasuk menggunakan air. Allah SWT memberikan karunia akal agar kita mampu olah pikir bagaimana menyeimbangkan pola hidup serasi dan bersahabat dengan lingkungan, bukan sebaliknya merusaknya.

Ini bisa dimulai sejak dini melalui kebiasaan ( *habit*) dalam lingkungan keluarga. Kebiasaan hemat air yang terus menerus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, pada saatnya membentuk karakter yang atas kesadarannya sendiri dapat mengerti dan memahami manfaatnya. Kemudian, melaksanakannya tanpa harus diminta, akan menjadi perilaku sehari- hari Mari kita hemat air, meski hanya sebagian kecil dari sikap peduli lingkungan, tetapi sangat bermanfaat, jika menjadi gerakan massal. (*)