Monday, 09 December 2019

Wanita Utama

Senin, 5 Agustus 2019 — 7:55 WIB

Oleh Harmoko

 

TAK terhitung berapa banyak kata mutiara, pepatah, peribahasa, premis atau filosofi tentang wanita. Tak sedikit juga kata mutiara wanita yang diciptakan para raja, kaisar, presiden, negarawan  serta orang – orang hebat dunia.

Napolean Bonaparte, Kaisar Perancis (1769-1821) mengungkapkan “Aku telah berhasil memenangi banyak peperangan besar. Kemenangan – kemenangan spektakuler yang berhasil kuraih tercatat dalam tinta emas sejarah. Tetapi, aku kalah dan terpuruk di hadapan satu wanita.”

Bung Karno, sang proklamator, menulis, ” Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya.Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”

Dari ungkapan dua negarawan tadi, dapat kita maknai  bahwa wanita memiliki kekuatan hebat  yang dapat meruntuhkan dunia. Jika dua kekuatan (wanita dan pria disatukan untuk saling melengkapi) akan menjadi semakin dahsyat.

Tak berlebihan sekiranya ada yang menafsirkan bahwa wanita (perempuan) adalah tiang negara. Jika perempuan baik, akan jayalah negara, sebaliknya jika perempuan buruk, maka rusak pula negara.

Tentu saja kita perlu menafsirkannya secara bijak. Tak harus ” letterlek – letterlijk (bahasa Belanda)” yang berarti literal atau  secara tekstual.

Jangan lantas menyimpulkan bahwa kerusakan negara apa pun penyebabnya menjadi tanggungjawab wanita. Apalagi jika merujuk kepada pitutur luhur yang yang mengajarkan kepada kita agar senantiasa tidak tergoda oleh “tiga ta” yakni tahta, harta dan wanita. Karena jika tergoda kepada satu dari “tiga ta” tadi seseorang dapat tergelincir.

Begitu pun kejayaan negara, tak pula dominasi peran perempuan.

Yang perlu menjadi komitmen bersama adalah bagaimana dengan kekuatan hebat yang tersimpan dalam diri wanita diberdayakan dalam konteks membangun keluarga dan masyarakat. Dalam arti yang lebih luas lagi bangsa dan negara.

Ini dikandung maksud peran perempuan hendaknya dimaksimalkam dengan meningkatkan kualitas hidup dengan memberikan akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Juga perluasan kesempatan berpartisipasi dalam dunia politik dan pemerintahan.

Zaman sekarang perempuan tak lagi hanya menjadi penikmat pembangunan, tetapi menjadi pelaku pembangunan. Maknanya memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa.

Dalam scope yang lebih kecil di lingkungan sekitar, dapat dipacu dengan  mengembangkan ekonomi rakyat yang didasarkan kepada pembudidayaan potensi lokal. Sejumlah studi menyebutkan banyak kelompok wanita di beberapa daerah yang sukses mengembangkan potensi lokal sebagai sumber penghasilan masyarakat. Kaum hawa telah membuktikan lebih tekun dan teliti mengelola dan menggerakkan kelompok petani, nelayan, koperasi, dan usaha rumahan yang berpeluang  menambah penghasilan keluarga.

Sayangnya potensi ini belum maksimal dikembangkan menjadi gerakan massal yang didukung semua kalangan. Konsep yang tersaji, belum sepenuhnya terealisasi dalam praktik sehari – hari.

Padahal pemberdayaan perempuan harus dikemas secara lebih komprehensif dengan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah pusat dan daerah, juga pihak swasta, pelaku ekonomi serta masyarakat, termasuk keluarga.

Negara wajib hadir memberikan dukungan nyata memberdayakan perempuan di segala bidang pembangunan. Dunia akan memandang negara kita mulia jika sukses mengelola potensi perempuan dalam pembangunan. Lebih – lebih populasi perempuan hampir separo dari 266,91 juta total penduduk Indonesia (proyeksi jumlah penduduk tahun 2019). Pada tahun – tahun berikut, jumlah perempuan diproyeksikan akan lebih banyak dari laki – laki.

Itulah gambaran potensi perempuan Indonesia. Tetapi peran perempuan akan total dan maksimal jika mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sebab, tak dapat dipungkiri kodratinya sebagai istri, ibu bagi anak- anaknya. Sesibuk apa pun dan secemerlang apa pun jabatan yang disandang, keluarga tetap akan menjadi prioritas utama.

Apalagi bagi wanita era kini, muncul paradigma bahwa karier yang cemerlang bukan melulu soal pekerjaan (profesi), tetapi sukses menjalani peran sebagai istri dan ibu yang baik. Jika mampu menyeimbangkan dan memaksimalkan kedua peran tadi, sukses menjalani peran sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga, itulah “wanita utama”, wanita terpercaya yang layak menjadi panutan.  (*).