Tuesday, 22 October 2019

Sumadi Seng, Perajin Tempurung Kelapa Tradisional yang Tetap Eksis

Rabu, 7 Agustus 2019 — 12:00 WIB
Sumadi Seng perajin tempurung kelapa tradisional.(ist)

Sumadi Seng perajin tempurung kelapa tradisional.(ist)

PURBALINGGA – Sudah 40 tahun Sumadi bekerja menggosok tempurung kelapa untuk membuat centong atau sendok sayur. Pekerjaan inilah yang telah menghidup dirinya dan menafkahi keluarganya.

Sumadi adalah perajin limbah kelapa di Purbalingga Wetan, Jawa Tengah. Di kampungnya, pria 66 tahun ini bisa dikatakan sebagai perajin tertua yang masih aktif. Sebab, perajin di sana rata-rata berusia 35-45 tahun.

Berbeda dengan kebanyakan perajin di kampungnya yang berkumpul di bangunan bekas SD Negeri 2 Purbalingga Wetan sebagai pusat pembuatan kerajinan, Sumadi memilih bagian samping rumahnya yang sederhana sebagai tempat bekerja.

Di tempat yang sempit itu terserak tempurung dan potongan kayu, dua lembar seng yang sudah berkarat menjadi pelindungnya dari terik matahari atau hujan saat sedang bekerja. Karenanya, ia lantas dikenal dengan sapaan Sumadi Seng.

Sumadi Seng mulai aktif membuat kerajinan dari limbah kelapa sejak tahun 1981. Ia mengikuti orang tuanya yang juga perajin. Keterampilan membuat kerajinan limbah kelapa juga ia pelajari hanya dengan melihat orang tuanya bekerja.

Kerajinan limbah kelapa di Purbalingga Wetan memang sudah berlangsung sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, hanya sedikit yang terus mempertahankannya hingga kini. Generasi muda setempat kurang tertarik pada kerajinan limbah kelapa.

Produk kerajinan limbah kelapa yang masih sering dibuat oleh Sumadi Seng adalah irus atau sendok sayur berbahan tempurung kelapa. Pembuatannya yang relatif mudah dan sederhana, sesuai usia dia.

Meski hampir setiap hari membuat irus, Sumadi Seng sudah jarang menerima pesanan dalam jumlah banyak atau dengan tenggat waktu yang singkat. Ia tidak ingin memaksakan kondisinya untuk mengerjakan pesanan yang memberatkan.

Hasil produksinya setiap hari dikumpulkan di rumah sambil menunggu pedagang pengepul datang mengambil. “Yang penting buat, nanti kalau ada yang ambil ya seadanya itu,” terang Sumadi Seng.

Saat ini, Sumadi Seng mengandalkan pedagang pengepul untuk memasarkan hasil produksinya ke luar daerah seperti Purwokerto, Yogyakarta, dan Jakarta. Berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu saat ia masih muda dan sanggup bepergian hingga ke Bandung dan Jakarta untuk menjual sendiri produk buatannya.

Meski melelahkan, Sumadi Seng tetap bersyukur. “Memang capek, tapi saya masih suka begini (membuat kerajinan),” tambahnya.

Saat ini, Sumadi Seng menjual harga irus seharga Rp2000. Itupun bisa lebih rendah jika ada pembeli borongan atau kodian (isi 20).  Sudah tak terhitung berapa banyak irus yang ia buat selama puluhan tahun. Sepanjang itu pula ia terus menggosok tempurung kelapa sampai halus, lalu disatukan dengan gagang kayu hingga menjadi irus. Bisa jadi irus di rumah dan di warung langganan kita adalah buatan Sumadi Seng. (*/mb)