Saturday, 14 December 2019

‘Menggusur’ Ala Anies

Jumat, 9 Agustus 2019 — 18:51 WIB

PERSOALAN sampah di Jakarta, adalah satu masalah krusial yang harus segera diselesaikan. Karena produksi sampah Ibukota terus meningkat, sementara Tempat Pengolahan  Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, nyaris overload. Setiap hari produksi sampah di DKI Jakarta mencapai 7.500 ton, sedangkan kecepatan pengolahan sampah tidak sebanding dengan volume limbah yang terus meningkat.

Itu sebabnya pembangunan tempat pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara, terus dikebut. Setiap proyek pembangunan, pasti ada warga yang terdampak. Seperti juga pembangunan ITF di Sunter, ratusan penduduk yang bermukim di sekitar lokasi bakal kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa ‘tergusur’ dan harus angkat kaki dari tempat itu.

Menariknya, Pemprov DKI punya kebijakan positif dalam ‘menggusur’ penduduk di lokasi tersebut. Warga tidak diusir begitu saja meski tinggal di lahan bukan milik mereka. Ratusan warga tersebut sehari-hari bekerja serabutan dan menempati lahan milik PT KAI. Tapi Gubernur Anies Baswedan tidak mengusir mereka ke Marunda, mencerabut ekonomi mereka begitu saja, melainkan dipindahkan dengan cara memanusiakan manusia.

Melalui program Resettlement Action Plan (RAP) atau penyediaan permukiman kembali, ratusan warga terdampak proyek ITF dipindahkan ke lokasi baru. Mereka diberi pilihan untuk merajut hari esok yang lebih baik. Warga yang tak memiliki KTP DKI, ditawarkan pulang kampung dengan diberi modal usaha dan dibina sampai bisa mandiri.

Memindahkan warga melaui program RAT yang dilakukan Pemprov DKI, harus diapresiasi. Tak ada perlawanan, tak ada penolakan, sebaliknya warga yang mengikuti program ini merasa sangat terbantu. Karena ratusan warga tersebut justru merasa terbantu baik dari sisi modal serta edukasi dalam menjalankan usaha.

Model memindahkan penduduk melalui program RAT disertai dengan memberi bantuan serta mendidik mereka hingga mandiri, patut diapresiasi. Di Ibukota, tidak sedikit penduduk urban yang bermukim di lahan bukan miliknya atau di bantaran kali, serta tak punya penghasilan tetap. Program RAT yang diterapkan kepada warga sekitar poyek ITF, bisa juga dilakukan di lokasi lain.

Bahkan program ini bisa menjadi contoh daerah lain yang mempunyai problema sama dengan penduduk Jakarta. Memukimkan kembali penduduk, membantu mereka mandiri secara ekonomi, supaya hidup mereka lebih sejahtera di tempat yang baru. **