Sunday, 15 December 2019

Setelah 30 Tahun Berkeluarga Pasutri Ini Baru Dapat Buku Nikah Resmi

Jumat, 9 Agustus 2019 — 19:59 WIB
Bupati Purwakarta Anne R Mustika dan Dandim 0619 Purwakarta Letkol Arh Yogi Nugroho bersama pasutri memperlihatkan buku nikah pada kegiatan isbat nikah massal, (dadan)

Bupati Purwakarta Anne R Mustika dan Dandim 0619 Purwakarta Letkol Arh Yogi Nugroho bersama pasutri memperlihatkan buku nikah pada kegiatan isbat nikah massal, (dadan)

PURWAKARTA – Pasangan suami istri (Pasutri)  ini, Oha (55) dan Yuyun (50) sudah 30 tahun berkeluarga, namun baru hari ini, Jumat (9/8/2019) mendapat buku nikah resmi dari negara yang mereka idamkan.

“Tentu senang sekali. Kami sudah 30 tahun menikah dan Alhamdulillah baru hari ini memiliki surat nikah,” ujar Oha tersenyum gembira sambil memegang buku nikah bagai pengantin baru yang mengenakan busana serba putih.

Pasangan ini selama berlekeluarga tanpa surat resmi bahwa mereka sudah menikah. Selama berkelaurga, mereka telah dikaruniai tiga anak.

Kebahagiaan Oha dan Yuyun ternyata juga dirasakan oleh puluhan pasangan lain. Buku nikah dari negara  didapat, setelah Pemkab Purwakarta memfasilitasi warganya pasangan suami istri (pasutri) yang belum memiliki buku nikah dengan nikah isbat massal.

Oha dan Yuyun yang menjadi salah satu pasangan peserta berucap syukur bisa mengikuti kegiatan isbat nikah.  Kegiatan isbat nikah gratis kali ini diselenggarakan di Aula Kantor Kecamatan Bojong dihadiri Bupati Purwakarta Anne R Mustika, Kemenag dan Pengadilan Agama.

Bupati Purwakarta Anne R Mustika mengatakan, isbat nikah ini merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat pasutri yang belum memiliki buku nikah.

Diungkapkannya, di wilayahnya baru empat kecamatan, yakni  Tegalwaru, Maniis, Bojong, dan Sukasari, yang sudah terverifikasi dan terdaftar pada kegiatan isbat nikah gratis ini.

“Saya belum tahu jumlah pasutri se Purwakarta yang belum memiliki surat nikah. Namun berdasarkan data yang sudah terverifikasi baru di empat kecamatan tersebut. Di Kec Bojong ini saja, ada 300 yang terdaftar namun terverifikasi hanya 163 orang karena persyaratan sudah lengkap,” jelasnya.

Menurut Anne, tahun ini lembaganya menargetkan 400 pasutri mengikuti isbat nikah. Untuk 2020 mendatang, lanjut Anne, pihaknya menargetkan 1000 pasutri tercover diprogram isbat nikah.

“Animo isbat nikah cukup tinggi, makanya ditahun 2020 kita akan menyasar 1000 pasutri. Tahun ini kita menganggarkan untuk program ini Rp 270 juta,”katanya.

Lebih lanjut Bupati menjelaskan faktor pasutri belum memiliki surat nikah diantaranya minimnya informasi pentingnya buku nikah dimasyarakat.

Selain itu, pernikahan usia dini dan faktor ekonomi sehingga banyak dari mereka mengabaikan administrasi pernikahan. “Buku nikah sangatlah penting, untuk data keluarga, akta kelahiran dan paspor,” ucap Bupati Anne. (dadan/win)