Saturday, 14 December 2019

Mewujudkan Ketakwaan Sosial

Sabtu, 10 Agustus 2019 — 6:01 WIB

BANYAK makna yang dapat kita petik dari ritual “Idul Kurban” dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak aspek pula yang dapat kita tinjau dalam memaknainya, satu di antaranya aspek sosial yang dikenal dengan dimensi horizontal dari ibadah itu sendiri.

Sejatinya setiap beribadah memiliki dua dimensi, yakni ibadah vertikal sebagai  bentuk ketakwaan kepada Allah SWT dan ibadah horizontal.

Penyembelihan hewan korban dan pembagian dagingnya kepada mereka yang membutuhkan ( berhak) merupakan ibadah sosial horizontal ( antar sesama ).Di dalamnya mengajarkan kepada kita pentingnya kepeduliaan sosial. Ada ajakan agar memperkokoh kesetiakawanan sosial.

Mereka yang memiliki kemampuan lebih memberikan sebagian miliknya kepada mereka yang lebih membutuhkan. Mereka yang memiliki harta berlebih memberikan sebagian hartanya kepada mereka yang kekurangan.

Saling memberi dan berbagi. Mereka yang kuat membantu yang lemah.Mereka yang mampu membantu yang kurang mampu. Mereka yang kaya membantu yang miskin.

Dalam penyembelihan hewan kurban hingga pembagian daging, juga tercemin adanya kebersamaan dan kegotong royongan. Masing – masing yang terlibat dalam ritual tersebut melepaskan ego pribadi, melepaskan status dan jabatannya.

Itulah sering dikatakan penyembelian hewan kurban hendaknya disikapi sebagai upaya “menyembelih” sifat – sifat buruk yang melekat dalam diri seseorang. Mengubah sifat egois menjadi lebih sosial, serakah menjadi dermawan, sikap masa bodoh menjadi sangat peduli serta sikap – sikap buruk lainnya berubah menjadi baik. Intinya tercipta empati sosial bagi kemaslatan umat.

Kita berharap ibadah idul kurban akan mendorong terciptanya kepedulian sosial yang terwujud melalui sikap saling menyangi, saling memberi memberi dan berbagi.

Hendaknya solidaritas dan kepedulian sosial tidak terhenti pada Idul Kurban, tidak terjadi hanya sethaun sekali, tetapi dapat teraplikasi dalam kehidupan nyata sehari – hari.

Di sekilimg kita masih banyak yang perlu uluran tangan, tak terhitung anak yatim, anak putus sekolah, anak- anak yang terpinggirkan karena keterbatasan sosial ekonomi keluarganya. Haruskah kita berpaling darinya.

Marilah kita peduli terhadap sesama sebagai wujud dari kesalehan dan ketakwaan sosial kita. (*).