Tuesday, 19 November 2019

Minyaaakkk, Minyaaakkk, Minyaaakkk!

Selasa, 13 Agustus 2019 — 6:13 WIB
Kilang minyak.

Kilang minyak.

MASIH ingatkan dengan teriakan; Minyaaakkkk! Minyaaakkk! Minyaaakkk! Ya, itu adalah suara penjual minyak tanah keliling yang menawarkan dagangannya, minyak tanah pada warga. Dulu itu, sebelum minyak tanah digantikan dengan gas, sekarang suara si abang tukang minyak nggak terdengar lagi, seperti ditelan bumi?

Kadang memang rindu juga ya, ingin mendengar tetiakan-teriakan tersebut, tapi sekarang sudah digantikakan dengan teriakan; gas,gas, gas! Apakah penjual gas yang sekarang keliling ini dulunya penjual minyak tanah? Bisa jadi ya.

Minyak tanah banyak banget punya cerita. Dia sebelum listrik masuk desa adalah sebagai penerang, untuk lampu dari sentir, obor sampai patromaks. Untuk dapur dia mengisi kompor. Tapi ketika listrik dan kompor tidak butuh lagi, maka minyak tanah pun menghilang, kalau pun ada harganya cukuplah mahal.

Mengapa begitu? Ya, ketika itu pemerintah memberi subsidi yang sangat besar. Tapi, ternyata bukan soal subsidinya, karena minyak sudah semakin langka, artinya kalau terus menerus dikonsumsi bisa habis!

Nah, kebetulan gas di bumi Nusantara ini membludak, maka gaslah yang menggantikan minyak tanah, begitu ceritanya.

Lho, tapi itu kok, minyak malah dibuang-buang begitu? Lihat di pantai Karawang, minyak tumpah di laut. Katanya sih ada kebocoran dalam pengeboran, tapi mbok ya cepatlah ditangani. Disamping negara rugi, kasihan warga sekitar pantai mereka resah.

Bukan saja, mereka makan dan menghirup udara yang nggak sehat,karena beracun. Lebih dari itu mata pencarian mereka juga mentok karena tak bisa melaut, atau bisa jadi ikan pada mati? Ah, ada-ada saja! (massoes)