Monday, 14 October 2019

Demi Keamanan, Rekonstruksi Pembantaian Satu Keluarga Digelar di Kantor Polisi

Senin, 26 Agustus 2019 — 20:25 WIB
tersangka tengah memperagakan kasus pembunuhan yang dilakukannya

tersangka tengah memperagakan kasus pembunuhan yang dilakukannya

SERANG – Rekonstruksi kasus pembantaian satu keluarga di Kampung Gegeneng, Desa Sukadalem, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, batal dilaksanakan di tempat kejadian perkara (TKP). Demi pertimbangan keamanan, penyidik menggelar reka ulang tersebut di Mapolres Serang Kota, Senin (26/8/2019).

“Pemilihan lokasi rekonstruksi ulang di Mapolres Serang Kota, karena alasan keamanan bagi pelaku dan kondusifitas saat melakukan rekonstruksi,” ungkap Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi kepada wartawan usai rekonstruksi.

Selain faktor keamanan dari amuk massa, kata Edy, rekonstruksi sengaja digelar di Mapolres Serang Kota, juga untuk menghargai perasaan keluarga korban yang memang penduduk asli Kampung Gegeneng.

“Korban itu kan asli warga Gegeneng dan banyak kerabat serta rekan-rekannya. Jadi rekonstruksi kami pindahkan agar berjalan lancar, tanpa mengurangi fakta hasil penyidikan oleh penyidik,” terangnya.

Sementara itu, dalam rekonstruksi diperagakan 28 reka adegan pembunuhan. Seluruh korban, baik korban jiwa yakni Rustiandi dan putranya berinisial A, maupun korban luka bernama Siti Sa’diyah diperankan oleh pemeran pengganti. Alasannya, kondisi Siti yang sedang dalam masa pemulihan paska operasi luka sobek di bibir hingga pipi kirinya, belum memungkinkan keluar rumah.

Rekonstruksi diawali pelaku Simin datang masuk rumah korban dan membawa patok kayu yang digunakan untuk menganiaya korban. Setelah melakukan penganiayaan, pelaku membawa sebuah handphone jenis Asus di kantong jaket dan meletakan patok kayu di bawah kursi sofa dekat dengan rumah korban.

Dikatakan Kombes Edy, dari gelaran rekonstruksi tidak ditemukan fakta-fakta baru. “Ada 28 adegan. Kali ini tidak melibatkan korban dan menggunakan peran pengganti, karena korban Siti yang masih hidup belum sehat betul,” terangnya.

Terhadap pelaku, penyidik mempersangkakan dengan Pasal 365 ayat 3 KUHP JO Pasal 338 dengan penjara kurungan seumur hidup. (haryono/yp)