Friday, 18 October 2019

Budaya Mawas Diri

Senin, 9 September 2019 — 6:01 WIB

Oleh Harmoko

Mawas diri, introspeksi, refleksi diri atau apa pun istilahnya yang
bertujuan untuk mengevaluasi dirinya sendiri, merupakan kata yang gampang
diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan.

Mawas diri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut “wawas diri”.
Secara terminologi mawas diri dapat diartikan sebagai upaya untuk
mengoreksi diri kita sendiri secara jujur dan sungguh – sungguh. Koreksi
dilakukan terhadap emosi, perasaan, pikiran, sikap dan perbuatan yang
muncul dalam diri kita.

Beragam emosi, perasaan, pikiran inilah yang perlu dikendalikan agar tidak
membuahkan sikap, perilaku perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri,
lebih – lebih orang lain.

Itulah sebabnya mawas diri menjadi penting untuk dilakukan. Setidaknya ada
tiga alasan mengapa kita perlu mawas diri?
Pertama, adanya keterbatasan kemampuan. Sebagai manusia tentu memiliki
keterbatasan soal waktu, tenaga dan pikiran. Keterbatasan baik menyangkut
keilmuan, pengetahuan dan skill.
Kedua, proses tidak selalu berjalan konstan karena setiap masalah
memiliki titik kritis yang berbeda- beda.
Ketiga, pengalaman yang serupa tak selalu memberi hasil yang sama, boleh
jadi karena beda situasi dan kondisi.

Filosofi Jawa mengajarkan mawas diri adalah obor dalam mencapai keselamatan.
Sregep mawas diri ateges bakal weruh marang kekurangan lan cacade dhewe,
wusanane tukul greget ndandani murih apike
” – Rajin mawas diri akan
mengetahui kekurangan dan cacat diri sendiri sehingga timbul kehendak untuk
memperbaiki.

Itulah perlunya wawas diri, jika kita ingin meningkatkan kualitas diri.
Hanya saja seperti disebutkan di awal tulisan ini, mawas diri memerlukan
kejujuran. Jujur mengoreksi terhadap kesalahan -kesalahan yang sering
diperbuat, kekurangan yang perlu diperbaiki. Tanpa kejujuran, koreksi diri
hanyalah kamuflase belaka tiada guna, jauh dari manfaat.

Perlu kiranya kita menginisisasi diri, sekalipun orang lain tidak tahu apa
yang ada di benak kita, hati kita, pikiran kita, bukan berati kita lepas
dari pengawasan.

Sekecil apa pun kesalahan, sangat rapi sekalipun pelanggaran disembunyikan,
tapi semua itu tak akan tersembunyi di hadapan Tuhan Yang Maha Mendengar,
Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Maknanya! Kita dituntut untuk jujur mengawasi diri sendiri tiada henti.
Kita bisa memulainya dengan senantiasa bersikap rendah hati sebagai
refleksi kesadaran diri bahwa kita tidak luput dari kekeliruan.

Hilangkan sikap sombong, “*adigang, adigung, adiguno”* karena sikap
tersebut cenderung menutup diri untuk melakukan evaluasi diri. Sebaliknya
terselip kehendak dirinya paling benar, orang lain yang keliru.

Langkah berikutnya adalah mengagendakan secara khusus untuk melakukan
koreksi diri.

Ada tiga tahapan yang sekiranya dapat diagendakan.
Pertama, koreksi diri sebelum melakukan pekerjaan apa pun profesi yang
digeluti sebagai bentuk antisipasi mencegah kekeliruan yang mungkin bakal
terjadi.
Kedua, ketika melakukan sesuatu aktivitas. Ini sebagai kontrol,
setidaknya mencegah agar tidak larut, jika terjadi kekeliruan dalam
berucap, bersikap dan berbuat.
Ketiga, setelah melakukan sesuatu pekerjaan sebagai bentuk evaluasi diri.

Ingat, pengalaman adalah guru paling berharga untuk *recovery* menuju
perbaikan, agar tidak terjebak dan mengulangi kesalahan yang sama.

Kita paham betul bahwa kehendak wawas diri yang didasari kejujuran lebih
banyak dipengaruhi oleh etik dan moral para pelakunya.

Meski begitu tak berlebihan sekiranya kita berharap bahwa pengawasan
terhadap diri sendiri, upaya mawas diri kian membudaya dalam diri kita.

Kita endapkan emosi, singkirkan prasangka buruk, kembangkan pikiran posifif
sebagai gerakan moral dalam menyikapi kehidupan sehari- hari.

Charles Robert Darwin, ilmuan Inggris berpesan “*Tahap tertinggi dalam
budaya moral adalah ketika kita menyadari bahwa kita seharusnya
mengendalikan pikiran kita.*”

Serumit apa pun perasaan mendera pikiran kita, mari kita mawas diri
mengakui segala kekurangan yang ada.

Satu pesan moral bagi kita. “Ngilo-a githok-e dewe – hendaknya kita bisa
mengetahui aib diri sendiri. Sing bisa nggedhong napsu – yang seharusnya
bisa mengendalikan hawa nafsu. Sing uwis ya uwis – dan yang sudah berlalu
biarlah berlalu.”

Yuk! kita memulai hal yang baru. Hal positif, setidaknya untuk diri
sendiri. Bismillah..(*).