Saturday, 07 December 2019

Indonesia Kalah Beruntun di SUGBK, McMenemy Menolak Mundur

Rabu, 11 September 2019 — 6:42 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy. (ist/pssi)

Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy. (ist/pssi)

JAKARTA – Simon McMenemy menolak mundur dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia setelah gagal meraih kemenangan dari dua ksempatan skuat Garuda di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada fase Grup G babak Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia.

Setelah takluk 2-3 dari Malaysia, Andritany Ardhiyasa kembali harus menelan kekalahan dengan skor telak, tiga gol tanpa balas dari Thailand, Selasa (10/9/2019) malam.

Pelatih asal Skotlandia itu bahkan mengaku masih layak menahkodai skuad Garuda setelah menelan kekalahan demi kekalahan di stadion kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut.

“Tentu saja saya masih layak melatih Timnas Indonesia. Suporter punya opini, saya juga punya opini. Tapi saya mewakili 250 juta penduduk Indonesia dan tidak semua memiliki opini yang sama tentang saya. Tapi saya masih yakin kami bisa bangkit pada laga-laga selanjutnya. Masih ada laga Uni Emirat Arab (UEA) dan Vietnam,” tandas McMenemy, usai pertandingan.

Hal itu diungkapkan McMenemy teriakan ‘Simon out’ dari para suporter mulai bergema di penghujung pertandingan melawan Thailand. Padahal, jauh sebelum itu, kekecewaan para suporter sudah sangat terlihat dari sepinya penjualan tiket sejak hari pertama dibuka, Minggu (8/9/2019).

Jumlah penonton yang datang langsung ke SUGBK bahkan turun drastis jika dibandingkan pada laga perdana melawan Malaysia. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Deputi Sekjen PSSI Marshal Masita, tiket pertandingan Indonesia versus Thailand, hanya terjual kurang dari 13 ribu lembar.

Hal itu menunjukkan kurangnya dukungan dari suporter terhadap Timnas Indonesia di bawah asuhan McMenemy. Ironisnya, ia bahkan menanggapi teriakan dari para suporter terhadap dirinya dan juga para pemain di lapangan, sebagai sesuatu yang tidak perlu dilakukan.

“Saya juga kaget dengan cemoohan dari para suporter. Terkadang ekspektasi mereka terlalu tinggi dan tidak realistis. Kalau suporter mengeluh kenapa kita tidak menang di Pra-Piala Dunia mungkin kita tidak berada di ‘planet’ yang sama,” kilah pelatih berusia 41 tersebut.

Sebagai pelatih, McMenemy seharusnya bisa memahami harapan dari suporter yang hanya meinginkan kemenangan dalam sebuah pertandingan. Faktanya, hingga dua laga yang sudah dilakoni di laga kandang, Andritany Ardhiyasa dan kolega, belum juga mampu meraih kemenangan.

Terakhir, Indonesia dipermalukan oleh Thailand dengan skor tiga gol tanpa balas di SUGBK. Tiga gol penentu kemenangan tim berjuluk Gajah Perang itu, dicetak Supachok Sarachat (55″ dan 71″) serta aksi Theerathon Bunmathan (penalti, 63″).

Hasil itu membuat Indonesia masih belum mampu mengubah status juru kunci Grup G, tanpa angka, Selanjutnya, Indonesia bakal menyambangi UEA sebelum menjamu Vietnam pada pertengahan bulan Oktober mendatang.

Sedangkan Thailand berhasil mengambil alih pimpin Grup G dengan empat poin dari dua laga, disusul UEA (3) di posisi kedua usai mengalahkan tuan rumah Malaysia 2-1 pada hari yang sama, Selasa (10/9/2019) malam. Sementara Malaysia lengser ke posisi ketiga lantaran kalah head to head dari UEA. (jun/yp)