Sunday, 17 November 2019

Keluarga Terpukul Mendengar Imam Nahrawi Jadi Tersangka di KPK

Kamis, 19 September 2019 — 7:58 WIB
Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga.  (prihandoko)

Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga. (prihandoko)

JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengungkapkan, keluarganya merasa terpukul setelah tahu dirinya ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Respon keluarga tentu sangat terpukul,” kata Imam, di rumah dinasnya, di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (18/9/2019) malam.

Namun, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meyakini, dirinya bisa menjelaskan kepada keluarga bahwa ia tidak bersalah.

“Saya yakin keluarga saya tahu kalau ini resiko saya sebagai menteri. Sebagai menteri tentu harus siap dengan segala sesuatu,” imbuhnya.

(Baca: KPK: Menpora Imam Nahrawi Diduga Terima Uang Rp26,5 Miliar)

KPK menetapkan Imam Nahrawi beserta asisten pribadinya, Miftahul Ulum sebagai tersangka baru dalam kasus suap dana hibah Kemenpora untuk KONI.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata mengatakan, perkara ini adalah pengembangan dari kasus yang sudah menjerat Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, dan Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy. Kedua pejabat KONI itu telah diputus bersalah oleh Pengadilan Tipikor DKI Jakarta, masing-masing diganjar 2 tahun 8 bulan penjara dan 1 tahun 8 bulan penjara.

Selain mereka, kasus ini juga menyeret Deputi IV Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora Adhi Purnomo, dan Staf Kemenpora Eko Triyanto. Ketiga pegawai Kemenpora ini masih menjalani proses persidangan.

(Baca: Jadi Tersangka KPK, Imam Nahrawi: Semoga Bukan Bersifat Politis)

Dalam proses penyelidikan pengembangan perkara tersebut, menurut Alex, Menpora Imam pun telah dipanggil sebanyak tiga kali untuk dimintai keterangan. Yaitu pada 31 Juli, 2 Agustus dan 21 Agustus 2019. “Namun yang bersangkutan tidak menghadiri permintaan keterangan tersebut,” kata Alex, di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (18/9/2019) sore.

Akibat perbuatannya, Imam Nahrawi dan Miftahul Ulum disangka melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 12 B atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. (junius/ys)